PERESMIAN BLOGGER ALEXANDER UMBU GODA

Alexander umbu goda secara resmi hari ini tanggal 05 october 2013 telah memutuskan untuk menetapkan sebuah lencana dalam blog ini yang saya beri nama Peresmian Bloger Alexander

Jumat, 31 Januari 2014

sastra Adat Pulau sumba Alexander umbu Goda

Home > Kesenian > Sastra Adat
SASTRA ADATKARENA tidak mengenal tulisan, nenek moyang orang Sumba mendokumentasikan seluruh sejarah mereka dalam bentuk lisan, demikian pula dengan ajaran-ajaran moral dan tata cara peribadatan. Sejarah dan ajaran ini biasanya disampaikan secara khusus saat berlangsung upacara adat dalam bentuk bait-bait berpasangan. Banyak benda, tempat dan kejadian memiliki nama puitis dengan makna mendalam. Misalnya, seorang anak akan menyebut rumah besar klan ibunya dengan istilah pola pingi daragu, mata we'e pawaligu. Secara harafiah berarti: dahan yang darinya aku bertumbuh, mata air yang darinya aku memancar. Hal ini merujuk pada konsep ole dadi yang menghitung hubungan darah hanya dari pihak ibu, sehingga kabisu pihak ibu dan rumah besarnya dianggap sebagai sumber asal usul. Versi lebih panjang dari bait di atas, yang menunjukan betapa dalam ikatan batin orang Sumba dengan klan ibunya, saya kutip dari buku Astutiah Gunawan berjudul Hierarcy And Balance: A study of Wanokaka Society WesS, yaitu sebagai berikut:
pola pingigu (dahan pohonku)
mata we'egu (mata airku)
pola pingi daragu (dahan pohon dari mana aku bertumbuh)
mata we'e pawaligu (mata air dari mana aku memancar)
nauta pa barugu (anak tangga lewat mana aku turun)
bina palosogu (ambang pintu lewat mana aku keluar)
mata we'e paoke (mata air tempat aku mengambil air)
pu'u wasu papogo (pokok kayu tempat aku memotong cabang)
da katura tana paba (tak kan ku buka lahan yang baru)
da kapoka ala oma (tak kan ku semai kebun yang baru)
Contoh lain adalah julukan ana uma, yaitu hupu ai, hupu larung yang berarti: kayu bekasan, tali bekasan. Disebut demikian karena ana uma adalah rumah yang dibangun setelah uma kalada sehingga material yang dipakai dikiaskan sebagai sisa-sisa pembangunan terdahulu. Di beberapa kampung tertentu saat pengantin perempuan hendak masuk ke rumah suaminya, tuan rumah biasa melantunkan syair berikut:
ambu na mbeda ela ua (tak kan padam api ditungku)
ambu na mihi na waila mbalu (tak kan kering air di tempayan)
padou uma marapu (yang ada di rumah marapu)
Maksud bait diatas jelas mengapresiasi kehadiran pengantin perempuan yang diharapkan bakal menjamin kelangsungan keluarga dan kabisu suaminya daengan melahirkanketurunan.
Masih banyak lagi bait dan syair-syair yang merefleksikan pandangan puitis orang Sumba terhadap berbagai hal di seputar kehidupan mereka. Dalam situasi formal, syair-syair adat tersebut umumnya disampaikan dalam bentuk wara: pitutur adat berisi asal usul nenek moyang dan hikayat suci Marapu, zaigho: syair-syai permohonan yang disampaikan bersama nyanyian dan gerak tari, kajalla: pantun tanya jawab untuk mempertanggungjawabkan suatu perbuatan, teda: sama seperti kajalla namun dalam lingkup yang lebih khusus.

Tidak ada komentar: