PERESMIAN BLOGGER ALEXANDER UMBU GODA

Alexander umbu goda secara resmi hari ini tanggal 05 october 2013 telah memutuskan untuk menetapkan sebuah lencana dalam blog ini yang saya beri nama Peresmian Bloger Alexander

Jumat, 06 Juni 2014

STRATEGI KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

 STRATEGI  KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
Oleh : Hanna Noija
ABSTRAK
Hakikat Pendidikan Agama Kristen adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas. Karena itu, maka disusun kurikulum untuk mencapai tujuan tersebut. Agar implementasi kurikulum PAK yang merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar dapat  tercapai, maka diperlukan  strategi  dalam penyususnan kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK), khusunya bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Kristen dan juga memiliki keterampilan untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun dengan sesame. Ada 5 strategi dalam penysunan kurikulum pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, antara lain :  Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran ,     Beberapa Pendekatan Pembelajaran ,   Pola pembelajaran Pendidikan Agama Kristen,   Dasar-Dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan  Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen

Kata Kunci : Strategi, Kurikulum

  1. I.                   PENDAHULUAN

Pendidikan Agama Kristen ( PAK ) pada  hakekatnya adalah merupakan usaha secara sadar yang dilakukan dengan penuh terencana dan kontinyu dalam rangka mengembangkan kemampuan para siswa, agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap sesame dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah mata pelajaran  yang  bertujuan: (1) Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dankarya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladaniAllah Tritunggal dalam hidupnya, (2) Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karyaNya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya, (3)Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik.
Pada dasarnya mata pelajaran pendidikan agama Kristen di sekolah formal bukanlah pekabaran injil semata-mata tetapi pendekatan agama Kristen di sekolah disajikan dalam sub aspek Allah Tri Tunggal (Allah Bapa, Putra dan Roh ) serta karya-Nya yang ada dalam nilai-nilai Kristiani. Secara Khalistik pengembangan kompetensi Pendidikan Agama Kristen  pada pendidikan dasar dan menengah mengacu pada dogma Allah Tri Tunggal dan karya-Nya harus nampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian siswa. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan kompetensi dalam pendidikan agama Kristen di sekolah dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial maupun mendorong terjadinya transformasi nillai-nilai kristiani dalam kehidupan siswa.
Perlu diketahui bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen berbeda sekali  dengan mata pelajaran lainnya karena implikasi Pendidikan Agama Kristen berisikan ajaran doktrin Kristen, norma dan didikan yang berfungsi memampukan peserta didik memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari dan membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari.
 Selain itu maka  mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen juga  lebih menekankan pada ranah afektif dan psikomotorik  dibandingkan dengan ranah kognitif.  Pembentukan mental dan sikap siswa  melalui penanaman nilai-nilai agama merupakan tugas yang tidak gampang bagi seorang guru, apalagi harus diperhadapkan dengan berbagai situasi di sekitar siswa yaitu, perkembangan iptek yang semakin maju dimana siswa dengan bebas dapat mengakses berbagai informasi di internet, tayangan televisi, perkelahian, kekerasan dan hal- hal lain yang sangat menuntut kerja keras seorang guru agama dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa melalui proses pembelajaran di kelas agar dapat menjadi filter bagi siswa itu sendiri dalam menghadapi berbagai situsasi disekitarnya.
            Selama ini pembelajaran Pendidikan Agama Kristen cenderung kearah pembahasan tematik teoritik sehingga terkesan bahwa pengajaran Pendidikan Agama Kristen terdiri dari materi hafalan belaka.. Kecenderungan yang lain adalah motivasi belajar yang kurang dalam mempelajari mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen karena adanya anggapan bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen hanya untuk memenuhi syarat kelulusan saja dan berfaedah sebagai informasi tentang Alkitab. Kecenderungan diatas dipengaruhi oleh cara guru  dalam memberikan materi pelajaran Pendidkan Agama Kristen yang monoton dan membosankan. Pembelajaran Pendidkan Agama Kristen yang didominasi metode ceramah cenderung berorientasi kepada materi yang tercantum dalam kurikulum dan buku teks, serta jarang mengaitkan yang dibahas dengan masalah-masalah nyata yang ada dalam kehidupan  Kristiani dan pergumulan hidup sehari-hari
Berdasarkan alasan yang dikemukakan di atas maka  perlu ada strategi yang direncanakan untuk menyusun kurikulum  pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, khusunya bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Kristen dan juga memiliki keterampilan untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun dengan sesama sehingga diharapkan setiap pengajaran dan  uraian materi Pendidikan Agama Kristen yang disajikan dapat memberikan konstribusi nilai-nilai keagamaan yang baik bagi siswa dalam pembentukan karakater dan kepribadian yang baik.

II. PEMBAHASAN
  1. A.    Pengertian Strategi Pembelajaran
Secara umum strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikn sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatanbelajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Menurut Sanjaya, (2007 : 126). Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan Killen (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dari pendapat tersebut, Dick and Carey (dalam Sanjaya :2006) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa (Sanjaya, 2007 : 126).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertama strategi pembelajaranmerupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.

1.      Pengertian Kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar.
Sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.
2.      Fungsi Kurikulum
Pada dasarnya kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman atau acuan. Bagi guru, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi sekolah atau pengawas, berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulurn itu berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Bagi siswa itu sendiri, kurikulum berfungsi sebagai suatu pedoman belajar.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu:
a.        Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function)
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjustedyaitu mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa pun harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
b.      Fungsi Integrasi (the integrating function)
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya.
c.       Fungsi Diferensiasi (the differentiating function)
Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus dihargai dan dilayani dengan baik.
d.      Fungsi Persiapan (the propaedeutic function)
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
 e.        Fungsi Pemilihan (the selective function)
Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswatersebut untuk memilih apayang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel.
f.       Fungsi Diagnostik (the diagnostic function)
Fungsi diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan sendiri potensi kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
3.      Komponen Kurikulum
Ada 4 unsur komponen kurikulum yaitu: tujuan, isi (bahan pelajaran), strategi pelaksanaan (proses belajar mengajar), dan penilaian (evaluasi) 
    a.      Komponen Tujuan
Kurikulum merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkian tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
  1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
  4. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.
     b.       Komponen Isi/Materi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada.
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu natara lain:
    Ø  Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
    Ø  Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
    Ø  Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
    Ø  Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
    Ø  Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.

Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
  1. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topiktopik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
  2. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran. 
  3. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
    c.       Komponen Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbiungan dan mengatur kegiatan, baik yang secara \umum berlaku maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran.
Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu dilaksanakan disekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus diwujudkan secara nyata disekolah, sehingga mampu mampu mengantarkan anak didik mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil yang maksimal, jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik. Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian, bimbingan dan penyuluhan dan pengaturan kegiatan sekolah.
     d.      Komponen Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program.
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Merupakan suatu komponen kurikulum, karena dengan evaluasi dengan evaluasi dapat di peroleh informasi akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa.berdasarkan informasi itu dapat dibuat keputusan tentang kurikulum itu sendiri,pembelajaran kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu di lakukan.
C .Strategi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen
Menurut Hutabarat dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan didalam kelas adalah merupakan penjabaran dari Kurikulum yang telah disusun  agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Karena itu menurut Hutabarat, ada 5 strategi kurikulum Pendidikan Agama Kristen, antara lain :
1.      Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran
2.      Beberapa Pendekatan Pembelajaran
3.      Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
4.      Dasar-Dasar pembelajaran PAK
5.      Strategi Pembelajaran PAK
Berikut ini akan diuraikan tentang strategi kurikulum  Pendidikan Agama Kristen adalah sebagai berikut:
1.      Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran
Hakekat pembelajaran adalah suatu system belajar yang terencana dan sistematis dengan maksud agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat berlangsung, sehingga terjadi perubahan yakni meningkatnya kompetensi belajar tersebut. Untuk itu, maka seorang guru yang merupakan ujung tombak dalam pembelajaran sudah seharusnya menciptakan system lingkungan atau kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien ( Sunaryo dalam Hutabarat 2006 : 27). Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ratumanan ( 2002 : 33) bahwa lingkungan fisik maupun social turut berpengaruh terhadap seseorang dalam proses belajar.
Dalam buku Model Pembelajaran terbitan Depdiknas 2004 (Hutabarat 2006 : 27 ), belajar adalah sebuah proses  perubahan tingkah laku seseorang atau subjek belajar. Pendapat yang sama disampaikan oleh Ratumanan ( 2002 : 1) bahwa belajar dapat memberi perubahan tingkah laku seseorang yang terjadi akibat hasil latihan atau pengalaman. Sehingga dapat dijellaskan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku melalui serangkaian aktifitas, misalnya membaca, mendengar, mengamati, meniru dan belajar itu akan lebih efektif dengan melakukan atau praktek ( Sardiman dalam Hutabarat 2006 : 28).
Atas dasar penegasan itu maka seseorang dikatakan belajar, apabila  menunjukan tingkah laku yang berbeda dari sebelumnya. Misalnya seseorang yang telah belajar dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukkan. Perubahan tingkah laku itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga mencakup kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Menurut Bloom dalam Hutabarat (2006 : 28 ), mengelompokan kegiatan belajar kedalam 3 ranah yakni kognitiif, afektif dan psikomotorik. Terkait dengan itu maka tujuan belajar bagi subjek belajar adalah untuk :
-          Mendapatkan dan meningkatkan pemahamannya tentang pengetahuan
-          Menanamkan konsep dan peningkatan ketrampilan serta
-          Membentuk sikap.
UNESCO menegaskan bahwa ada 4 pilar dalam belajar, yang telah di sampaikan pulah oleh Suhaenah Suparno, dalam Hutabarat (2006 : 28) yaknilearning to know, learnig to do, learning to live together dan learning to be. Artinya bahwa perlu adanya proses belajar mangajar atau pembelajaran, Karena mengajar di dalam hal ini tidak  sekedar hanya menyampaikan pelajaran bagi siswa, tetapi suatu proses pengorganisasian atau menciptakan kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar dari subyek belajar lebih efektif. Kondisi di ciptakan sedemikian rupa sehingga dapat membantu perkembangan obyek secara optimal, baik jasmani maupun rohani baik fisik maupun mental  yang lebih di kenal dengan proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah sebuah sistem karena itu di dalam pembelajaran terdapat beberapa komponen yang saling terkait untuk mencapai hasil belajar yakni tercapainya kompetensi bagi siswa.
2.      Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat digunakan untuk menetapkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Setiap pendekatan yang diterapkan akan melibatkan kemampuan subjek pelajar / siswa dan guru, dengan  kadarnya masing-masing. Terkait dengan hal tersebut, maka ada beberapa jenis pembelajaran menurut Anderson dalam Hutabarat (2006 : 31) yakni teacher centered ( berpusat pada guru ) dan student centered (berpusat pada siswa).
Pendekatan Ekspositiry adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas guru dan subjek belajar bersifat pasif dan hanya menerima saja dari guru. Pendekatan ini umumnya didominasi dengan metode ceramah, sedangkan pendekatan inkuiri merupakan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aktifitas subjek belajar sementara guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan pengelolah yang memberi pengantar dengan peragaan secara singkat dan selanjutnya subjek belajar secara aktif mencari dan menemukan sendiri apay yang sedang dipelajari (student oriented). Kedua pendekatan tersebut baik ekspository maupun inkuiri sama-sama mengandung keterlibatan subjek belajar hanya kadarnya yang berbeda seperti pendekatan ekspository keterlibatan siswa sangat rendah sedangkan pendekatan inkuiri aktifitas subjek belajar sangat tinggi artinya subjek belajar akan selalu menjadi titik perhatian dan focus dalam kegiatan pembelajaran dan sudah tentunya dalam menentukan pendekatan ini perlu disesuaikan dengan tuntutan kurikulum dan perkembangnan jaman.

3.      Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Pola pembelajaran PAK SD, SMP dan SMA adalah contoh-contoh model yang dapat dipakai oleh guru agama Kristen di sekolah namun perlu diingat bahwa pendidikan di sekolah merupakan kesatuan yang utuh dengan pendidikan yang diterima oleh keluarga dirumah, gereja atau masyarakat. Pola pembelajaran nilai-nilai yang cocok adalah pembelajaran aktif yang mengacu pada strategi pembelajaran yang berfokus pada siswa (life center) sehingga seluruh pembelajaran berpusat pada siswa artinya bahwa perkembangan, keberadaan, pergumulan,, kebutuhan, kondisi kongkrit siswa yang sering kali berfariasi haruslah menjadi pertimbangan utama guru dalam merancang pembelajaran sehingga PAK benar-benar menyentuh eksistensi siswa dan siswa mengalami perubahan baik pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai dalam dirinya sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus Tuhan yang mendasari pembelajaran PAK.  Dalam modul strategi pembelajaran PAK, pola pembelajaran aktif merupakan keterkaitan dari  komponen-komponen seperti pengalaman, komunikasi, interaksi dan  refleksi. Sehingga langkah-langkah secara bertahap dalam pembelajaran aktif yang dipilih tentunya mengacu pada keempat komponen tersebut.
Idelanya PAK yang sarat dengan nilai-nilai kristiani ini dilaksanakan secara berkesinambungan, tahap demi tahap, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA baik di sekolah, gereja, Keluarga maupun di masyarakat. Bentuk atau system pendidikan adalah terbuka (open ended system ) artinya PAK tidak selesai hanya di sekolah tetapi merupakan pembelajarn yang utuh dan berkesinambungan dengan gereja, keluarga, mulai dari kandungan sampai liang lahat. Proses pembelajaran PAK tidak hanya berhenti di skolah saja tetapi belajar terus menerus disepanjang kehidupan manusia. Itu berarti nilai-nilai agama itu dipelajari kapan saja, dimana saja, sepanjang waktu siswa belajar tentang Allah dan karyanya secara nyata dalam kehidupannya.


4.      Dasar-Dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Beberapa kutipan ayat alkitab dibawah ini menolong guru untuk memahami intinya pembelajaran PAK adalah :
         Ulangan, 6 : 4 – 9 ( haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak mu)
         Efesus 6 : 4 (didiklah mereka dalam ajaran dan nasehat Tuhan)
         Amsal 22 : 6 ( didklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu )
         2 Timotius 3 : 16 ( segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran)
Implikasinya
         Imperative mendidik / membesarkan ( bandingkan Amsal 13 : 13)
         Mendasarkan pengajaran/asuhan pada kitab suci
         Pendidikan Kristiani bersifat terus menerus (life long education)
         Pendidik : orang tua, guru, fungsionaris pendidikan
         Pendekatan multi metode
         Isi nesehat atau ajaran Tuhan (bandingkan Amsal 2 : 6 ; 3 : 13 – 15)
5.       Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah pola strategi yang berisi langkah-langkah prosedur dalam merancang program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sesuai tuntutan kurikulum untuk memperoleh hasil belajar siswa. Dengan demikian sebelum merancang strategi pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan keberadaan siswa yang beranekaragam latar belakang kehidupannya. Siswa beraneka ragam dalam hal  perkembangan fisik, psikis, moral, kognitif dan kepribadiannya. Pertimbangan tersebut berdasarkan tujuan yang sama bagi semua siswa yaitu agar mereka mengalami pertumbuhan pengetahuan, siikap keterampilan, mental rohani dan mmoralitas.
Dalam kurikulum, tujuan ini disebut kompetensi yang didasari oleh nilai-nilai kristiani melalui Pendidikan agama Kristen di sekolah. Perlu juga diipahami bahwa pendidikan agam Kristen adalah mata pelajaran yang bermuatan ranah afektif dan psikomotorik lebih besar daripada kognitif sehingga melalui pembelajaran pendidikan agama Kristen diharapkan siswa mengalami perjumpaan dengan Allah di dalam Tuhan Yesus, sang sumber nilai-nilai yang membawa perubahan pada diri siswa khususnya perkembangan iman serta mental moralnya disamping perkembangan pengetahuan dan psikomotoriknya.
Keutuhan perkembangan ranah afektif, kognitif dan psikomotorik yang didasarkan pada nilai-nilai kritiani menjadi hal yang sentral dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Keutuhan dari ketiga unsur pelaksana pendidikan yakni keluarga, gereja/ masyarakat dan sekolah juga menjadi pemikiran strategis yang dikoordinir dalam kurikulum Pendidikan Agama Krisen tahun 2004 dilakukan tiga pendekatan masing-masing :
1.      Pendekatan Dialogis atau Partisipatif
Bahwa pendekatan dalam kurikulum Pendidikan agama Kristen yang berbasis kompetensi adalah pendekatan dialogis pertisipatif dalam belajar aktif dengan focus pada kehidupan siswa (Life center ) artinya sebagaimana kurikulum dirancang dengan pendekatan tersebut maka strategi pembelajaran pendidikan agama Kristen pun mengacu pada kurikulum. Supaya pembentukan iman, mental moral, pengetahuan yang didasarkan pada nilai-nilai kristiani siswa menjadi tujuan pembelajaran pendidikan agama Kristen.
Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu dari sejumlah mata pelajaran yang bertujuan mengembangkan kepribadian siswa sehingga menunjang mata pelajaran lainnya karena pendidikan agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga dan masyarakat sehingga melalui belajar aktif siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakan konkrit yang merupakan kesaksian imannya ditengah-tengah dunia dan kemuliaan bagi Tuhan.
2.      Strategi Penyusunan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Dalam menyususn program pelajaran/disain pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatifyang berfokus pada kehidupan siswa dalam belajar aktif maka guru Pendidikan Agama Kristen perlu berkoordinasi dengan wali kelas, wakil Kepala sekolah bidang kurikulum untuk melakukan langkah-langkah persiapan sebagai beriku :
  Program pembelajar disusun bersama guru-guru agama Kristen di wilayahnya atau dalam kelompok MGMP atau musyawarah guru mata pelajaran agama Kristen atau kelompok PERGAKRI (persekutuan guru agama kristen) untuk mengimplementasikan kompetensi dan materi pokok dalam kurikulum sesuai kebutuhan siswa disekolanya atau dilingkungannya atau di daerahnya
  Metode yang dipilih dapat disepakati agar masing-masing guru  memilih sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dengan mempertimbangkan situasi kondisi sekolah dan siswanya demmikian pula efalusainya.
  Pembelajaran dirancang agar terjadi komuniakasi refleksi, shering pengalaman iman antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan juga siswa dengan lingkungan.
  PAK dapat mencapai sasarannya jika terjalin komunikasi dari pelaku-pelaku PAK dengan, keluarga, sekolah, gereja sehingga saling melangkapi sesuai dengan fungsinya.
3.      Penyajian program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Pada pembelajaran pendidikan agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatoris yang berpusat pada kehidupan siswa (life center) proses pelaksanaannya dilakukan melalui empat paket kegiatan yaitu :
a.       Kegiatan belajar mengajar dikelas
b.      Kegiatan belajar mandiri siswa
c.       Kegiatan keagamaan di rumah/keluarga.
d.   Kegiatan di Gereja
a.       Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas
Strategi kegiatan belajar mengajar dikelas dilakukan oleh guru agam Kristen ditempuh dengan cara menjabarkan kompetensi melalui langkah-langkah pembelajaran aktif dengan mendasarinya pada kesaksian alkitab. Lanngkah-langkkahnya sebagai berikut :
         Pembukaan pembelajaran dengan doa, nyanyian dan pembacaan alkitab (10 – 20 Menit)
         Pembahasan materi pokok sesuai dengan modul bingkai materi pendidikan agama Kristen untuk SD, SMP dan SMA (30 – 40 Menit)
         Strategi pembelajaran ini dilaksanakan secara luwes dan tidak mengikat, tergantung pada kompetensi, materi pokok, suasana siswa, perkembangan lingkungan di kelas.
b.      Kegiatan Mandiri Siswa
Kegiatan mandiri adalah tugas kegiatan pengalaman dan pengalaman keagamaan yang diberi oleh guru PAK kepada setiap siswa pada setiap pembelajaran satu semester.  Program kegiatan keagamaan di sekolah yang harus dilakukan oleh setiap siswa meliputi :
-          Penguasaan tata cara beribadah / liturgy
-          Penguasaan tata cara penelaah alkitab
-          Ibadah pada hari minggu dan hari raya gerejawai
-          Bedah buku Kristen
-          Studi intensif tentang agama Kristen
-          Program aksi pelayanan bersama
-          Kunjungan antar gereja
-          Kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi sekolah seperti aksi social antar agama
c.       Kegiatan Keagamaan di Rumah / Keluarga
Program kegiatan keagamaan dirumah sebenarnya merupakan hakk asasi yang dimiliki oleh keluarga namun agar terjadi pembelajaran PAK yang berkesinambungan maka guru juga perlu mengusulkan beberapa kegiatan yang sebaiknya diadakan oleh keluarga sehingga dapat mendukung kegiatan keagamaan di sekolah  seperti
-           ibadah bersama dalam keluarga,
-          penelaah alkitab bersama dalam keluarga
-          menjalin persaudaraan dalam kasih kristus
-          menggali kegiatan keagamaan lain melalui media masa dan mendiskusikannya dalam keluarga
-          melakukan pelayanan bersama oleh keluarga pada gereja yang lain
d.      Kegiatan di Gereja
keaktifan siswa di dalam kegiatan gerejawi merupakan factor penting yang mendukung program keagamaan siswa seperti yang telah dilakukan oleh sekolah antara lain:
-          mengikuti ibadah bersama
-          mengikuti program gereja
-          reatreat
-          kemah kerja
e.       Kegiatan di Masyarakat
Kegiatan social siswa di masyarakat merupakan kegiatan implementasi siswa atas pembelajaran PAK yang diterimanya dari keluarga, gereja dan sekolah. Masyarakat adalah tempat siswa mempraktekan iman dan ilmunya sehingga siswa menjadi garam dan terang Kristus bagi dunia sekitarnya.
  1. III.             PENUTUP
Berdasarkan hasil bahasan yang telah duiraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan agama Kristen adalah salah satu dari sejumlah mata pelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan para siswa, agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap sesame dan lingkungan hidupnya sehingga menunjang mata pelajaran lainnya karena pendidikan agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga, masyarakat dan diharapkan siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakan konkrit yang merupakan kesaksian imannya di tengah-tengah dunia demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka disusun kurikulum PAK yang merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Agar implementasi kurikulum dapat tercapai,  maka diperlukan strategi dalam menyusun kurikulum yang dirancang dengan baik oleh seorang guru agama. Karena itu ada 5 (lima)  strategi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen yaitu:  Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran ,     Beberapa Pendekatan Pembelajaran ,   Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen,   Dasar-dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen  dan  Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen

Tidak ada komentar: