PERESMIAN BLOGGER ALEXANDER UMBU GODA

Alexander umbu goda secara resmi hari ini tanggal 05 october 2013 telah memutuskan untuk menetapkan sebuah lencana dalam blog ini yang saya beri nama Peresmian Bloger Alexander

Jumat, 31 Januari 2014

Pengertian marapu ALexander Umbu Goda

Home > Merapu > Pengertian Merapu
PENGERTIAN MARAPU
SELAIN Pulau Sandlewood, Sumba sering pula disebut dengan istilah Bumi Marapu. Kebudayaan Sumba kerap dikaitkan dengan marapu dan banyak orang menyebut sistem kepercayaan tradisional Sumba dengan nama Marapu. Sebetulnya apakah marapu itu?

Dari segi etimologi ada beberapa pengertian marapu. Versi pertama dikemukakanoleh L. Onvlee, seorang peneliti berkebangsaan Belanda. Menurut beliau, sepertidikutip oleh Oe. H.Kapita (1976), marapu berasal dari kata ma = yang dan rapu = dihormati,disembah, didewakan. Versi kedua dan ketiga dikemukakan oleh A.A. Yewangoe.Menurut beliau marapu berasal dari kata ma = yang, serta rappu = tersembunyi. Marapubisa juga berasal dari kata mara = serupa serta appu = nenek moyang. Sementara itu,Nggodu Tunggul (2003) menafsirkan marapu sebagai gabungan dari kata ma=yang, sertarappu=mengkristal ke dasar. Marapu mengandung makna yang telah rampung, telahberes, telah selesai. Menurut beliau hal ini berkaitan dengan kematian, artinya jasad manusiatelah dikuburkan secara resmi menurut hukum adat, roh dan jiwanya telah dipercayakankepada sang pencipta, tugas manusia yang masih hidup telah selesai. Jasadyang meninggal telah membusuk, mengkristal, menyatu kembali dengan tanah sebagaizat asal kejadiannya, sedangkan roh dan jiwanya telah kembali kepada penciptanya, menyatudengan zat Illahi dalam suasana kehidupan yang baru dan abadi. Roh para leluhuryang telah menyatu dengan sang pencipta disebut marapu. Sedemikian dekatnya merekadengan sang pencipta sehingga marapu kemudian menjadi penghubung manusia dalamberkomunikasi dengan Alkhalik. Hal ini diungkapkan dalam istilah da mapa turukungu liida-da ma parapangu pekada artinya mereka yang menyampaikan segala pesan, hasratdan keinginan (umat manusia secara tepat dan benar kepada Tuhan Yang Maha Esa).

Pendapat lain dikemukakan oleh Nico Wunga, seorang tokoh adat dari kampungTambera. Menurut beliau, marapu kemungkinana berasal dari kata mappi = duduk rapi,serta rappi = tersembunyi. Berepa tokoh adat yang kami wawancarai cenderung memilikipandangan serupa, menurut mereka marapu adalah sesuatu yang tersembunyi dandisakralkan dan umumnya diasosiasikan dengan kelamin pria, itu sebabnya pria Sumbazaman dulu selalu menutup rapat kemaluan mereka, pososi duduk pun diatur sedemikianrupa agar tertutup rapi. Mengapa kelamin pria? tidak ada yang bisa memberikan jawabanpasti. Mungkin terkait fungsi organ itu yang dalam kepercayaan Sumba dipercaya sebagaipemberi bentuk pada janin dalam kandungan (ama ma palalagu).

Menurut beberapa kalangan, marapu sebetulnya tidak secara khusus mengacupada dewa atau roh-roh leluhur seperti yang kini menjadi asumsi umum. Marapu lebihberupa sifat yang dimiliki suatu benda, baik yang kasat mata maupun yang tak terlihat.Bagi orang Sumba, segala sesuatu yang memiliki kekuatan supranatural, yang tak bolehdisentuh, tak boleh dipajang sembarangan, dan dianggap keramat (pamali), adalah marapu.Roh leluhur disebut marapu, karena dalam sistem kepercayaan tradisional Sumba,roh-roh ini diyakini telah hidup dekat dengan Sang Pencipta, memiliki kemampuan serupadewa dan pada akhirnya menjadi penghubung turunan mereka yang masih hidup denganSang Maha Kuasa. karena posisi dan kemampuan mereka lah maka roh-roh tersebut dihormati,disucikan dan kemudian disebut dengan istilah marapu, bukan marapu itu sendiri.

Lalu mengapa sistem kepercayaan tradisional Sumba disebut Marapu? Darisekian wawancara yang kami lakukan tidak banyak Nara Sumber yang dapat memberikanjawaban pasti. Istilah marapu sepertinya diadopsi begitu saja sebagai nama kepercayaanini. Mungkin karena nyaris semua ritual dalam sistem kepercayaan ini selalu melibatkanroh-roh leluhur yang disebut marapu, maka jadilah ia sebagai nama kepercayaanjuga. Sebetulnya masalah nama tidak terlalu penting untuk diperdebatkan, sah-sah sajaia disebut marapu karena pada dasarnya roh nenek moyang (marapu) memang memiilkiperan sentral dalam sistim kepercayaan tradisional Sumba. Pertanyaan yang lebih pentingadalah apa sebetulnya inti ajaran ini?

Pada dasarnya semua Nara Sumber dan literatur yang ada umumnya sepakatbahwa Marapu merupakan suatu sistem kepercayaan yang meyakini adanya kekuatantertinggi yang disebut Mawolu-Marawi, secara harafiah berarti yang membuat dan yangmenciptakan. Mawolu-Marawi adalah sesuatu yang abstrak. Wujud dan namanya tak diketahuitapi kehadirannya diyakini, sehingga orang Sumba menyebutnya juga dengan istilahndapa nunga ngara, ndapa teki tamo: tak disebut nama, tak ada bandingannya. Mawolu-Marawi diyakini sebagai sumber kehidupan yang mampu memberikan kesalamatandan ketentraman bagi umat manusia sekaligus sanggup mendatangkan malapetakabagi yang tak selaras dengan keinginannya. Saking sakral dan jauhnya kedudukan Mawolu-Marawi, tak seorang pun bisa berkomunikasi dengannya secara langsung.Untukmenyampaikan permohonan dan mengetahui kehendak-kehendaknya diperlukan perantara.Dan karena roh para leluhur diyakini menjalani kehidupan baru ditempat yang dekatdengan Sang Pencipta tersebut, maka roh-roh inilah yang menjadi perantara mereka.Ritual-ritual peribadatan yang dijalankan pada dasarnya adalah untuk memohon berkatatau mengetahui kehendak Mawolu - Marawi, yang disampaiakn melalui peranta marapu(roh leluhur).

Karena kedudukan Mawolu-Marawi yang sedemikian sakral, bahkan serasa nyaris tabu, lama kelamaan Ia menjadi semacam bayangan kabur dibenak orang kebanyakan. Di lain pihak peran Marapu sebagai perantara otomatis membuat roh-roh ini lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, dan tentu saja maha penting, karena tanpa Marapu mustahil mereka bisa terhubung dengan Sang Maha Kuasa. Untuk memanggil dan memahami maksud yang disampaikan Marapu diperlukan ritual-ritual khusus, maka jadilah Marapu sebagai obyek pemujaan. Hal-hal yang demikian membuat orang di luar komunitas ini menganggap Marapu adalah sesembahan mereka, padahal bagi penganutnya sendiri, Marapu adalah perantara, roh nenek moyang yang telah menjadi setengah dewa (semidevine anchestral spirits).

Menurut Nggodu Tunggul (2003) Marapu biasanya disimbolkan dengan emas dan perak yang disebut Tanggu Marapu (bagian leluhur). Tanggu marapu dibedakan menjadi Tanggu Marapu la Hindi (bagian leluhur yang tersimpan di atas loteng) dan Tanggu Marapu la Kaheli (bagian leluhur di balai-balai). Emas yang digolongkan sebagai Tanggu Marapu la Hindi tidak boleh disentuh sembarang orang kecuali mereka yang telah ditahbiskan untuk itu. Menurut keyakinan setempat roh-roh leluhur hadir dalam emas itu, dan lama kelamaan seolah dianggap sebagai marapu itu sendiri. Sedangkan Tanggu Marapu la Kaheli adalah emas-emas pusaka yang menjadi milik suatu klan (bukan milik pribadi), umumnya berupa perhiasan dan sering dipamerkan dalam upacara-upacara kematian dan ritual adat lainnya. Ada pun marapu-marapu lainnya diwujudkan dalam simbol-simbol seperti batu, kayu, pohon besar dan lain sebagainya. Marapu-marapu jenis ini ada yang bersifat baik seperti Marapu Wanno (marapu penjaga kampung), namun ada pula yang jahat misalnya Marapu Kaballa (marapu kilat).

Tidak ada komentar: