KONSEPSI ARSITEKTUR
Topic : Konsepsi Arsitektur Pulau sumba Sumber : Informasi Tourist departement SMK NEGERI 1 WAIKABUBAK ditulis : juli 2012 diperbaharui : Rabu 03 september 2014 lokasi : Denpasar- BALI. ======================================================================= Seluruh berat rumah sedangkan kegunaan praktisnya adalah sebagai gelang anti tikus agar hewan pengerat tersebut tidak bisa memanjat ke loteng tempat menyimpan hasil panen. Masing-masing tiang utama memiliki nama dan fungsi tersendiri. Beda kampung beda lagi namanya, tapi dari segi fungsi pada prinsipnya sama saja. Tiang yang terletak di sebelah kanan depan (parii urat) biasanya merupakan tiang yang paling diutamakan karena dipercaya sebagai tempat lalu lalang marapu pendiri rumah. Melalui tiang ini manusia dapat berhubungan dengan leluhurnya untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan. Tiang kanan belakang merupakan kediaman roh-roh leluhur yang lebih kemudian. Roh-roh ini dipercaya selalu mengawasi pintu utama, sehingga ada pula yang menyebut tiang tempat mereka berdiam sebagai tiang penjaga kabisu. Tiang Ketiga yang terletak disebelah kiri depan dan tiang ke empat di belakangnya memiliki makna yang kurang lebih sama dengan pasangan mereka di sebelah kanan, tetapi ditujukan untuk leluhur dari pihak perempuan (loka). Karena terletak di dekat area dapur, tiang keempat kerap pula dijuluki tiang penjaga api. Makna lain keempat tiang utama adalah manifestasi empat arah mata angin: utara, selatan, barat dan timur, dengan tungku api yang berada tepat di tenganhya sebagai simbol matahari. ditopang oleh empat tiang utama (parii kalada) yang terbuat dari kayukayu khusus seperti masela, kawisu, lapale atau ulu kataka, serta tiangtiang penyangga yang lebih kecil. Keempat tiang utama, terutama tiang pertama di dekat pintu masuk, merupakan elemen arsitektur rumah adat Sumba yang paling penting, setidaknya dari sisi religius. Masing-masing tiang dilingkari cincin besar dari kayu (labe), sehingga jika dilihat secara keseluruhan, tiang dan cincin ini agak mirip lingga dan yoni, konsepsi seksual Hindu yang melambangkan kesuburan. Dari sisi religius labe berfungsi sebagai tempat meletakkan persembahan, BEBERAPA nara sumber menyebut rumah adat Sumba sebagai 'rumah tiga alam' karena dari segi arsitektur dan kegunaan memang terbagi menjadi tiga bagian yaitu:Toko Uma, Bei Uma, dan Kali Kabunga. 1. Toko Uma 2. Bei Uma di antara koro ndouka dan ujung belakang mbale katounga adalah ruang tambahan yang memiki sejumlah fungsi. Anggota keluarga yang sakit biasanya beristirahat di ruang ini, pengantin wanita didandani di sini, dan para ibu melahirkan bayi mereka juga di ruangan yang disebut halibar ini. Ruang-ruang tersebut di atas jarang memiliki partisi permanen, satu sama lain hanya dipisahkan oleh bale-bale pendek sehingga jika tampak sekilas, interior rumah Sumba bagaikan sebuah ruang terbuka lebar. 3. Kali Kabunga Karena berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan masak dan makanan matang, leki dianggapap sebagai penunjang kelangsungan hidup yang penting. Sementara jantung identik dengan robukadana yaitu tungku api serta dapur yang terletak tepat di tengah-tengah rumah, dan dianggap sebagai pusat penggerak kehidupan. Bagian kaki dilambangkan dengan tiang-tiang penopang, terutama 4 tiang utama dan 16 tiang penyangga, serta tiang-tiang penunjang lainnya. Sementara konsep gender tampak pada pembagian ruang-ruang. Ada Bale katounga (ruang untuk laki-laki) dan ada Kere pandalu (ruang untuk perempuan). Konsep gender juga terlihat jelas pada kadu uma (tanduk rumah), simbol suami dan istri yang berada di puncak menara rumah. Menurut A.A. Rai Geria danI Gusti Ayu Armini (2010) konsep gender dalam rumah adat Sumba bisa dilihat sebagai simbol hubungan spiritual dua kutub berlawanan yang bersifat oposisi biner. Misalnya langit dan bumi atau lelaki dan perempuan. Masing-masing terpisah dalam status dan peran namun bekerja saling melengkapi sehingga pada gilirannya mampu menghasilkan kesuburan, kelangsungan hidup dan kekayaan.
PEMBANGUNAN RUMAH ADAT
PEMBANGUNAN rumah adat Sumba merupakan salah satu kegiatan adat besar yang membutuhkan sejumlah besar dana, juga keterlibatan banyak pihak sehingga perlu dipersiapkan dengan matang. Tahap-tahap persiapan dan pembangunan mungkin agak berbeda antara satu wilayah etnis dan wilayah etnis lainnya, tapi perbedaan tersebut tidak terlalu mencolok dan lebih disebabkan karena lokasi pengambilan bahan yang berbedabeda. Misalnya ada yang bisa memperoleh bahan di lokasi dekat kampung, tapi ada juga yang harus menyebrangi laut, sehingga akhirnya ikut mempengaruhi variasi ritual. Pada dasarnya pembangunan rumah adat bisa dibagi menjadi tiga tahapan besar yaitu persiapan atau perundingan, pencarian bahan dan pembangunan. 1. Perundingan Tahap perundingan yang dalam bahasa Wanokaka disebut pakehang atau pakasana dalam bahasa Loli, merupakan tahapan penting dimana seluruh kabisu terkait, baik yang bermukim di dalam maupun di luar kampung, berkumpul bersama untuk membicarakan persiapan-persiapan yang perlu dilakukan, baik menyangkut bahan, tenaga kerja, ritual adat, pendanaan dan waktu pelaksanaan 2. Pencarian bahan Pada tahap ini bahan bangunan mulai dikumpulkan. Bahan-bahan ini berasal dari alam sekitar, seperti kayu untuk tiang, alang-alang untuk atap, bambu untuk dinding dan lantai, tali-temali untuk pengait, juga pandan yang kemudian dianyam menjadi tikar untuk alas duduk maupun tidur. Yang terpenting dari semuanya adalah pencarian kayu untuk tiang utama. Proses pencarian, yang kadang bisa berlangsung selama berhari-hari, umumnya dilakukan di hutan-hutan tertentu melalui kegiatan adat khusus yang di sebut Laungu Ai (Wanokaka) atau Burru Kandawu (Loli). Sebelum berangkat, rombongan yang dipimpim oleh beberapa orang rato terlebih dahulu melakukan pemujaan kecil dengan menyembelih ayam guna mengetahui peruntungan dan lokasi yang tepat. Pemujaan kembali dilakukan setelah kayu ditemukan, kali ini dengan pelantunan syair-syair adat serta persembahan sirih dan pinang sebagai simbol permohonan ijin kepada roh penunggu pohon. Lalu sang rato melemparkan tombaknya ke pohon terpilih dan dengan itu proses penebangan pun dimulai. Setelah ditebang, kayu diikat dengan tali khusus, dihiasi lado (semacam hiasan kepala yang biasa dipakai para rato) lalu ditarik beramai-ramai menuju kampung dengan terlebih dahulu melakukan pemujaan sebagai tanda penghormatan kepada roh penunggu pohon. Di pintu masuk kampung kembali dilakukan prosesi adat dalam bentuk kajalla (sejenis pantun adat yang substansinya semacam pertanggung jawaban atau pernyataan maksud). Baru setelah itu rombongan diijinkan masuk kampung untuk memulai proses selanjutnya. Di Wanokaka, di mana lokasi pengambilan kayu berada di hutan Konda Maloba yang harus ditempuh melalui jalur laut, kegiatan Laungu Ai dibarengi ritual yang sedikit berbeda. Rombongan harus berkemah di tepi hutan selama hari-hari, sehingga sewaktu kayu akhirnya berhasil ditemukan dan ditebang, mereka melakukan pemujaan (mayatung) dengan menyembelih ayam serta babi sebagai ucapan syukur, lalu dibagikan kepada seluruh rombongan sebagai simbol melepas kepenatan setelah lama menetap dihutan. Sewaktu hendak berlayar kembali ke Wanokaka mereka juga melakukan ritual yang disebut Maratang Tana, dengan melepas seekor anak ayam yang kaki kanannya diikat tali merah. Lalu ada lagi Hari Papa, upacara meriah yang digelar selama 3 hari di pesisir pantai Wanokaka. Upacara ini merupakan ungkapan syukur dan luapan suka cita karena rombongan telah kembali dan berhasil! Upacara dimeriahkan dengan tarian, nyanyian dan pemotongan hewan untuk dibagikan kepada seluruh rombongan. Pembagian daging dilakukan dengan cara yang sedikit unik, disesuaikan dengan posisi mereka saat berlayar, misalnya kepala untuk juru mudi dan seterusnya. Selepas perayaan Hari Papa kayu datarik menuju kampung. Prosesi penarikan dipimpin para rato dan dua pasang laki-laki dan perempuan yang bertugas sebagai pemberi semangat, pemimpin lagu dan tari-tarian. 3. Pembangunan Setelah semua bahan terkumpul pembangunan pun siap dimulai. Tentu saja didahului upacara pemujaan untuk memanggil kula ina-kula ama (roh pasangan pendiri rumah) agar turut serta dalam proses pembangunan kembali rumah tersebut sehingga semuanya dapat berjalan dengan lancar. Ritual ini dilakukan dengan menyembelih babi sebagai persembahan. Bagian rumah yang paling pertama dibangun adalah keempat tiang utama. Tiang-tiang ini dipancang dengan pangkal tertancap di tanah dan ujung menghadap ke atas seperti posisi alami kayu sebelum ditebang, tidak boleh sebaliknya. ujung tali-temali yang mengikat tiang pun harus mengarah ke kanan, tidak boleh ke kiri. Pelanggaran terhadap hal-hal semacam ini dipercaya bakal membawa penyakit bagi penghuni rumah. Setelah tiang utama tertancap kuat, giliran tiang-tiang pendukung (pari’i ripi) yang dibangun, lalu landasan rumah (uma dana) dan terakhir kerangka menara. Proses selanjutnya adalah pemasangan alang-alang (pangaingo) yang juga dianggap penting dan biasanya melibatkan partisipasi seluruh kampung. Pemasangan alang-alang harus dilakukan serapat mungkin agar tidak bocor ketika hujan. Berikutnya adalah pemasangan dinding, lalu lantai, diakhiri dengan pengerjaan bagian dalam rumah. Selama pembangunan berlangsung, setangkup sirih pinang selalu diletakkan di dekat Parii urat (tiang utama pertama) sebagai persembahan kepada marapu. ========================================================================
Sekian dan terimah kasih atas kebersamaan anda dalam melihat dan membaca isi dan bloger Alexander Umbu goda. tiada lain dan tiada bukan harapan saya tetap sama semoga berguna dan bermanfaat bagi saudara saudara sekalian yang membutukan informasi mengeni sumba. .
|
Selamat Datang DiBloger Alexander Umbu Goda. Temukan hal hal menarik didalamnya. anda akan menelusuri bersama saya Alexander dengan beberapa hal hal terpenting buat anda. ini juga berguna bagi kaum pelajar dan umum . disana anda bisa menemukan beberapa ilmu mengenai pendidikan, seni, kebudayaan, adat istiadat dan materi materi penting serta pendidikan kerohanian anda bagi KRISTEN. SELAMAT BERGABUNG
PERESMIAN BLOGGER ALEXANDER UMBU GODA
Alexander umbu goda secara resmi hari ini tanggal 05 october 2013 telah memutuskan untuk menetapkan sebuah lencana dalam blog ini yang saya beri nama Peresmian Bloger Alexander
Jumat, 31 Januari 2014
Kosepsi arsitektur pulau sumba Alexander Umbu Goda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar