Home > Tradisional > Kampung Adat indah. Seperti telah di bahas pada bab sebelumnya ada dua jenis kampung tradisional yang dikenal penduduk asli Sumba, yaitu kampung besar (wanno kalada) dan cabang dari kampung besar tersebut (wanno gollu). Kampung besar adalah kampung yang dibangun oleh nenek moyang pertama dan merupakan pusat penyelenggaraan berbagai ritual adat penting. Karena peran ritual yang disandangnya wanno kalada sering pula dirujuk dengan istilah kampung adat. Sementara kampung cabang adalah kampung-kampung yang dibangun oleh generasi yang lebih muda. Kampung semacam ini bukan tempat kediaman marapu sehingga tidak memiliki peran ritual. Warganya selalu harus kembali ke kampung besar sewaktu hendak menggelar upacara-upacara penting, termasuk perkawinan dan penguburan. Dengan demikian kampung adat atau wanno kalada bisa pula dilihat sebagai sebuah identitas kelompok. Orang-orangnya, baik yang masih tinggal di sana ataupun yang tersebar diberbagai tempat lain, terikat satu sama lain oleh hak dan kewajiban yang sama atas kampung mereka dan berbagai kegiatan sosio-religius.Kampung adat Sumba dikelilingi pagar batu yang tertata rapi serta dilengkapi dua gerbang utama, gerbang masuk yang disebut bina tama dan gerbang keluar yang disebut bina louso. Sebongkah batu atau simbol-simbol lain yang telah diperciki darah hewan pesembahan diletakkan di masing-masing gerbang sebagai perlambang roh penjaga pintu (marapu bina). Sebuah wanno kalada umumnya dihuni oleh lebih dari satu klan, masing-masing memiliki satu rumah adat utama. Rumah-rumah ini dibangun berjajar mengelilingi sebuah pelataran suci (natara) yang pada waktu-waktu tertentu digunakan sebagai tempat menggelar berbagai ritual penting. Di sekitar natara dan rumah adat, tersebar makam megalitik. Orang Sumba selalu mendirikan kuburan di depan rumah mereka agar senantiasa dekat dengan kerabat yang telah meninggal. Posisi mayat pun selalu menghadap ke arah rumah agar dapat mengawasi aktifitas mereka yang masih hidup. Selain fungsi pokoknya sebagai tempat mengubur mayat, makam-makam ini sering juga digunakan untuk kegiatan lain yang bersifat profan, misalnya menjemur padi atau menjadi semacam balkon untuk menonton upacara adat yang digelar di natara. Selain batu kubur, terdapat beberapa objek pemujaan yang tersebar di tengah kampung adat. Yang paling umum adalah katoda, berupa tonggak kayu kecil dengan batu pipih di bawahnya sebagai tempat meletakkan persembahan bagi marapu. Di beberapa kampung tertentu ada watu kaballa atau batu kilat yang dipercaya berasal dari langit dan konon bisa mendatangkan sambaran petir terhadap orangorang yang berniat buruk. Lainnya berupa pokok kayu mati yang disebut adung. Pada zaman dahulu adung digunakan untuk menggantung kepala musuh. Di depan adung pula digelar upacara-upacara persiapan perang dan sesudahnya. Sekarang ini yang digelar disitu adalah ritual persiapan berburu babi hutan yang diselenggarakan pada saat bulan suci (wulla poddu) sekitar Oktober – November setiap tahun. |
Selamat Datang DiBloger Alexander Umbu Goda. Temukan hal hal menarik didalamnya. anda akan menelusuri bersama saya Alexander dengan beberapa hal hal terpenting buat anda. ini juga berguna bagi kaum pelajar dan umum . disana anda bisa menemukan beberapa ilmu mengenai pendidikan, seni, kebudayaan, adat istiadat dan materi materi penting serta pendidikan kerohanian anda bagi KRISTEN. SELAMAT BERGABUNG
PERESMIAN BLOGGER ALEXANDER UMBU GODA
Alexander umbu goda secara resmi hari ini tanggal 05 october 2013 telah memutuskan untuk menetapkan sebuah lencana dalam blog ini yang saya beri nama Peresmian Bloger Alexander
Jumat, 31 Januari 2014
Kampung adat pulau sumba Alexander Umbu Goda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar