PERESMIAN BLOGGER ALEXANDER UMBU GODA

Alexander umbu goda secara resmi hari ini tanggal 05 october 2013 telah memutuskan untuk menetapkan sebuah lencana dalam blog ini yang saya beri nama Peresmian Bloger Alexander

Jumat, 31 Januari 2014

PAhatan dan ukiran Pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Kesenian > Pahatan & Ukiran
PAHATAN DAN UKIRAN
SENI ukir dan seni pahat di Sumba Barat paling banyak diterapkan pada bangunan megalitik. Eksistensi seni jenis ini memiliki kaitan erat dengan strata kelas dan prestise sosial. Karena bahan yang akan dipahat yaitu lempengan batu kubur dibawa ke kampung melalui prosesi adat besar, maka pengerjaannya memerlukan keahlian khusus dan kehati-hatian ekstra. Pada zaman dulu hanya sedikit orang yang mampu menghadirkan pemahat berpengalaman jadi bisa dikatakan makin banyak ukiran sebuah megalitik, makin tinggi pula kedudukan pemiliknya. Apa lagi pembuatannya sendiri harus melalui prosesi adat yang membutuhkan biaya tak sedikit.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya dalam Bab tentang Megalitik, pola hias yang ada umumnya berupa sulur-sulur, huruf 'S', lingkaran memusat, tokoh manusia, binatang, serta pola-pola geometris dari era yang lebih muda. Bentuk pola hias tersebut biasanya merupakan cerminan kepercayaan religius serta simbol status raja atau pemimpin yang sangat dihormati. Selain pada bangunan megalitik, ukir-ukiran bisa temukan pada bangunan rumah adat, tapi dengan pola yang lebih sederhana.

busana Traditional Pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Kesenian > Busana
BUSANA TRADISIONAL DAN KELENGKAPANNYA
DI Sumba Barat, busana tradisional antara wilayah satu dan lainnya hampir sama, dengan sedikit perbedaan pada corak kain dan cara mengikat kapauta (ikat kepala). Busana tradisional dengan atribut lengkap biasanya dikenakan para rato dan kaum bangsawan saat berlangsung upacara adat besar, sedangkan pada upacara-upacara yang lebih kecil busana dikenakan dengan atribut minimal. Berikut ini adalah bagian-bagian busana tradisional Sumba Barat:
Busana Adat Pria
PERLENGKAPAN dasar busana adat pria adalah sebagai berikut:
1. Ingi Dete dan Ingi Bawa: yang dimaksudkan dengan ingi adalah kain berbentuk lembaran yang merupakan item paling pokok dari busana tradisional lelaki Sumba. Ingi terdiri dari dua bagian, Ingi Bawa (kain bawah) dan ingi deta (kain atas). Ingi bawa dikenakan pada bagian bawah tubuh dengan cara dililitkan di pinggang dimana sebagian ujung kain dibiarkan menjulur diantara lutut. Ingi Dete digunakan seperti selendang yang disampirkan menyimpang dari bahu kiri ke bahu kanan.
2. Kapouta: ikat kepala yang dililit sedemikian rupa membentuk kerucut (kabora) dengan ujung mencuat ke atas atau berbagai variasi lain. Beda wilayah beda pula cara mengikat kaupata, sehingga dalam batas-batas tertentu bisa dijadikan identitas kelompok sub-etnis. Kapouta dulunya terbuat dari kulit kayu, namun kini tergantikan oleh kain tenun dan kain-kain buatan pabrik. 
3. Kalere begge:
 ikat pinggang terbuat dari kulit kayu yang digunakan untuk mengikat ingi bawa agar kuat melekat di pinggang. Dewasa ini kalere begge yang asli sudah jarang ditemukan, orang lebih suka menggunakan ikat pinggang lebar buatan pabrik yang disebut salopo atau halopa. 
4. Katopo begge:
 parang yang diselipkan pada ingi bawa, di pinggang bagian kiri. 
5. Kaleku pamama:
 tas dari anyaman pandan atau kulit kayu yang disampirkan di bahu sebelah kiri. Kaleku pamama digunakan untuk menyimpan sirih pinang yang disuguhkan kepada tamu sebagai tanda selamat datang dan untuk keperluan pemujaan.
Sementara untuk kalangan rato dan penari, selain perlengkapan standar seperti disebutkan di atas, ada tambahan asesoris sebagai berikut:
1. Lado: hiasan kepala terbuat dari bulu kuda putih dengan rotan kecil sebagai bingkai dan bilah rotan sebagai pengikat. Lado biasanya ditancapkan pada kapauta, ujung bawah sejajar dengan dahi dan ujung satunya sejajar dengan kabora. Lado seperti itu hanya digunakan oleh Rato Rumata. Rato-rato lain menggunakan lado yang lebih sederhana, berupa seutas rotan yang ujungnya dihiasi bulu ayam hitam (lado wullu manu mette). 
2. Nobu: tombak yang umumnya terbuat dari besi atau kayu pilihan. Tombak yang dikenakan oleh rato biasanya merupakan tongkat-tongkat keramat yang hanya boleh digunakan pada saat tertentu.
3. Toda: tameng atau perisai terbuat dari kulit kerbau. 
4. Lagoro: giring-giring yang dikenakan pada betis, ada yang berhiaskan bulu ekor kuda (logoro ullu wa'i) dan juga yang disematkan pada kulit kambing. 
5. Pali piding: tali rotan berhiaskan bulu ekor kuda. Dikenakan di pinggang dengan ujung berada dibelakang tubuh.
6. Dolu: gelang terbuat dari gading, emas, kuningan atau perak, yang dikenakan pada lengan bagian atas. 
7. Teko: sejenis parang kuno yang sarungnya memiliki tali, biasa dikenakan dengan cara dicangklongkan di bahu sebelah kiri.? 

Busana Adat Wanita
BUSANA adat wanita Sumba Barat pada dasarnya terdiri dari komponen-komponen berikut ini:
1. Ye'e: kain berbentuk sarung yang dipakai menutup tubuh dengan cara dilingkarkan di sekeliling dada.
2. Kaleku pamama: tas tradisional dari anyaman pandan atau kulit kayu yang disampirkan di bahu sebelah kiri. Kegunaannya sama dengan yang digunakan oleh kaum pria.
3.  Mamoli: perhiasan telinga berbentuk belah ketupat dengan lubang ditengah. Mamoli terbuat dari emas, kuningan atau perak, ada yang polos, ada juga yang dilengkapi beragam ukiran. Karena ukuran mamoli cukup besar dan berat, sekarang ini jarang yang mengenakannya sebagai anting-anting, lebih sering dijadikan bandul kalung.
4. Puli: giwang terbuat dari emas, atau perak dengan model yang khas.
5. Maraga: perhiasan dada serupa pita besar terbuat dari emas, kuningan atau perak.
6. Tabelo: perhiasan kepala berbentuk bulat sabit atau tanduk kerbau, terbuat dari emas atau perak.
7.  Lele: gelang. ada yang dikenakan di tangan, umumnya terbuat dari gading (lele gadi), ada pula yang dikenakan di kaki, umumnya terbuat dari anyaman tali yang dihiasi giring-giring (lele wai). 
8. Lado mawinne: hiasan kepala dari bilah rotan bercabang tiga yang dihiasi bulu ekor kuda. Dikenakan dengan cara disematkan pada kapouta. Kapoutanya sendiri terbuat dari pelepah pinang namun kini lebih banyak yang menggunakan kain buatan pabrik dengan warna-warna mencolok yang dibiarkan menjuntai melewati pinggang. Lado Mawinne hanya digunakan oleh para penari. 

Tenun Traditional Pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Kesenian > Kain Tenun
TENUN TRADISIONAL
SENI dan kerajinan Sumba Barat yang paling populer adalah kain tenun. Masing-masing wilayah memiliki ragam motif dan corak tersendiri. Di wilayah Wanokaka, Lamboya dan Tana Righu ada kain panggiling, pahikung dan pawora sementara di Loli terkenal dengan kain lambaleko. Jenis-jenis kain tersebut terkait dengan teknik pembuatan motif dan pewarnaannya. Pahikung adalah jenis kain yang dibuat dengan teknik ikat. Pawora dibentuk dengan teknik anyaman yang kemudian diberi pewarna alami (wora), sementara lambaleko dibuat menggunakan lidi atau bilah bambu yang disisipkan pada sela-sela benang lalu diungkit dan ditekan mengikuti pola-pola tertentu.
Tidak seperti di Sumba Timur, motif kain tenun di wilayah Sumba Barat umumnya kecil-kecil dan sedikit abstrak. Pada kain laki-laki motif seringkali berupa garis, titik-titik, dan mamoli di tepinya. Sementara motif yang terdapat pada kain wanita aslinya berupa belah ketupat (mata kerbau) dan segi tiga (ekor kuda). Menurut Janet Hoskins motif-motif tersebut diadopsi dari benda-benda yang diberi pihak laki-laki sewaktu meminang seorang gadis (belis). Sementara benda-benda yang diberikan pihak perempuan seperti babi atau gading dianggap tabu. Mamoli yang merefliksakan seksualitas wanita digambar pada kain laki-laki, sementara mata kerbau dan ekor kuda yang merupakan simbol-simbol maskulin di gambar pada kain perempuan. Pada acara-acara adat kedua kain ini selalu hadir berpasangan sebagai gambaran transaksi yang seimbang.
Dewasa ini motif kain tenun tidak lagi mengikuti pakem tradisional. Misalnya mamoli, kini banyak muncul pada kain perempuan, ada pula motif kepiting yang merupakan simbol kebangsawanan. Bahkan motif paling baru berupa burung di kolam air mancur yang banyak muncul belakangan ini tidak memiliki makna apa pun, sekedar hiasan dekoratif yang dicontoh sang penenun dari buku-buku bergambar. Namun halhal yang dianggap tabu tetap tak berbah, hingga hari ini tidak pernah ada yang mengaplikasikan belis balasan pihak wanita sebagai motif kain tenun.
Proses Pembuatan
KAIN tenun tradisional dibuat menggunakan metode dan peralatan kuno yang nyaris tak berubah sejak berabad-abad silam. Tuntutan ekonomi, perkembangan zaman dan selera pasar memang membawa perubahan pada bahan baku (kapas diganti benang pabrik, pewarna alami diganti pewarna sintetis) tapi selebihnya tetap sama.
Jika menggunakan kapas maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membuang biji-biji kapas dengan sebuah alat yang disebut gesu kaba. Alat ini terbuat dari dua potong kayu bulat yang diletakkan pada dua tiang kayu serta sepotong kayu lagi dibagian pinggir untuk memutar. Ketika diputar, kedua kayu bulat akan berputar berlawanan arah, menggulung dan memisahkan biji kapas dari seratnya. Langkah kedua adalah meratakan serat kapas menjadi lempengan persegi panjang menggunakan sebuah alat pemukul dari rotan (mirip pemukul kasur) yang disebut pukula. Lempengan lalu dijemur, setelah itu dibuat menjadi buntalan-buntalan bulat panjang. Buntalan-buntalan inilah yang selanjutnya dipintal menjadi benang dengan sebuah alat sederhana yang disebut kidde. Kidde terbuat dari kayu teras bulat sebesar jari kelingking. Sewaktu hendak dipintal, ujung buntalan kapas dikaitkan ke pangkal kidde lalu kidde diputar seperti gasing. Sementara kidde berputar, buntalan kapas yang selebihnya diulur sedikit demi sedikit menggunakan tangan hingga akhirnya terbentuklah gelondongan benang disekeliling kidde. Untuk mendapatkan benang yang kuat, gelondongan benang direbus bersama potongan ubi kayu (dikanji), dan setelah itu dibentuk lagi menjadi gulungan-gulungan benang (kabukul). Kabukul bisa dibentuk dengan tangan atau menggunakan alat yang disebut pepaka. Semua proses inilah yang bisa dipangkas jika menggunakan benang buatan pabrik. Langkah berikutnya adalah membuat benang lungsin. Alat yang digunakan untuk keperluan ini berupa bingkai kayu berukuran +/- 2x1cm (wanggi). Di alat ini lah kabukul atau benang buatan pabrik diatur membentuk lungsingan seukuran kain yang dinginkan. Selanjutnya adalah pembuatan corak atau motif. ada yang menggunakan teknik ikat, tapi pada umumnya lambaleko. Pada tenun ikat motif diikat terlebih dahulu lalu dicelup dalam bahan pewarna, setelah kering ikatan dibuka, baru setelah itu ditenun menjadi kain. Sementara pembentukan motif pada lambaleko bisa sejalan dengan proses penenunan.
Selain memenuhi fungsi praktis sebagai bahan pakaian, kain tenun tradisional Sumba Barat juga memiliki makna sosio-religius. Kain tenun dapat mendongkrak prestise sosial seseorang. Makin banyak jumlah kain yang dimiliki, makin beragam corak dan warnanya, makin tinggi pula kedudukan pemiliknya di mata masyarakat. Kain tenun terbaik selalu dipakai untuk menutupi jenazah sebagai simbol penghargaan kepada almarhum. Begitu juga dengan para pelayat, selalu membawa kain tenun sebagai tanda belasungkawa. Kain tenun adalah simbol budaya yang penting dan digunakan dalam berbagai kesempatan seperti perkawinan, menyambut tamu, permintaan maaf dan lain sebagainya.

sastra Adat Pulau sumba Alexander umbu Goda

Home > Kesenian > Sastra Adat
SASTRA ADATKARENA tidak mengenal tulisan, nenek moyang orang Sumba mendokumentasikan seluruh sejarah mereka dalam bentuk lisan, demikian pula dengan ajaran-ajaran moral dan tata cara peribadatan. Sejarah dan ajaran ini biasanya disampaikan secara khusus saat berlangsung upacara adat dalam bentuk bait-bait berpasangan. Banyak benda, tempat dan kejadian memiliki nama puitis dengan makna mendalam. Misalnya, seorang anak akan menyebut rumah besar klan ibunya dengan istilah pola pingi daragu, mata we'e pawaligu. Secara harafiah berarti: dahan yang darinya aku bertumbuh, mata air yang darinya aku memancar. Hal ini merujuk pada konsep ole dadi yang menghitung hubungan darah hanya dari pihak ibu, sehingga kabisu pihak ibu dan rumah besarnya dianggap sebagai sumber asal usul. Versi lebih panjang dari bait di atas, yang menunjukan betapa dalam ikatan batin orang Sumba dengan klan ibunya, saya kutip dari buku Astutiah Gunawan berjudul Hierarcy And Balance: A study of Wanokaka Society WesS, yaitu sebagai berikut:
pola pingigu (dahan pohonku)
mata we'egu (mata airku)
pola pingi daragu (dahan pohon dari mana aku bertumbuh)
mata we'e pawaligu (mata air dari mana aku memancar)
nauta pa barugu (anak tangga lewat mana aku turun)
bina palosogu (ambang pintu lewat mana aku keluar)
mata we'e paoke (mata air tempat aku mengambil air)
pu'u wasu papogo (pokok kayu tempat aku memotong cabang)
da katura tana paba (tak kan ku buka lahan yang baru)
da kapoka ala oma (tak kan ku semai kebun yang baru)
Contoh lain adalah julukan ana uma, yaitu hupu ai, hupu larung yang berarti: kayu bekasan, tali bekasan. Disebut demikian karena ana uma adalah rumah yang dibangun setelah uma kalada sehingga material yang dipakai dikiaskan sebagai sisa-sisa pembangunan terdahulu. Di beberapa kampung tertentu saat pengantin perempuan hendak masuk ke rumah suaminya, tuan rumah biasa melantunkan syair berikut:
ambu na mbeda ela ua (tak kan padam api ditungku)
ambu na mihi na waila mbalu (tak kan kering air di tempayan)
padou uma marapu (yang ada di rumah marapu)
Maksud bait diatas jelas mengapresiasi kehadiran pengantin perempuan yang diharapkan bakal menjamin kelangsungan keluarga dan kabisu suaminya daengan melahirkanketurunan.
Masih banyak lagi bait dan syair-syair yang merefleksikan pandangan puitis orang Sumba terhadap berbagai hal di seputar kehidupan mereka. Dalam situasi formal, syair-syair adat tersebut umumnya disampaikan dalam bentuk wara: pitutur adat berisi asal usul nenek moyang dan hikayat suci Marapu, zaigho: syair-syai permohonan yang disampaikan bersama nyanyian dan gerak tari, kajalla: pantun tanya jawab untuk mempertanggungjawabkan suatu perbuatan, teda: sama seperti kajalla namun dalam lingkup yang lebih khusus.

Tari dan Musik Pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Kesenian > Tari & Musik
TARI DAN MUSIK
SEBAGAIMANA dijumpai dalam banyak kebudayaan lain, musik dan tarian tradisional Sumba Barat pada awalnya merupakan bagian dari pemujaan. Dan seiring perkembangan zaman mulai dipentaskan juga pada acara-acara kenegaraan, pagelaran budaya bahkan untuk konsumsi wisatawan. Hampir semua wilayah di kabupaten Sumba Barat memiliki jenis tari tersendiri. Ada tarian yang khusus ditarikan oleh kaum wanita, kaum pria atau campuran keduanya. Yang paling populer adalah Woleka dan Kataga. Woleka adalah tarian yang dibawakan oleh kaum wanita untuk menyambut kepulangan para pahlawan dari medan perang. Sementara Kataga adalah tarian perang yang ditampilkan oleh kaum pria dengan sangat ekspresif dan penuh energi.
Tarian tradisional Sumba Barat umumnya diiringi alunan musik yang berasal dari gong dan tambur. Tapi uniknya, awal tarian bukan ditentukan oleh suara musik itu sendiri tapi oleh keselarasan nada yang dirasakan oleh para penarinya. Musik boleh saja berbunyi tapi selama irama gong dan tambur belum serasi, penarinya hanya akan berdiam diri.
Instrumen musik yang paling sering digunakan adalah gong (talla) dan tambur (beddu). Gong umumnya terbuat dari kuningan atau pelat besi. Ukurannya bermacammacam, ada yang besar (talla pia) ada pula yang kecil (talla ana kouka). Yang kecil biasa digunakan sebagai instrumen pembuka. Begitu pula dengan tambur ada yang besar, biasanya dibunyikan dengan pemukul dari kayu, dan ada tambur berukuran kecil (katuba) yang dibunyikan dengan tangan. Selain itu terdapat beberapa instrumen lain, yang sayangnya kini nyaris punah, antara lain : kasabba: sejenis simbal dari pelat besi; goga ama: sejenis seruling pendek yang digerakkan dengan menggunakan udara dalam mulut; talahe: sejenis seruling berlubang satu yang ditiup menggunakan satu lubang hidung sementara lubang hidung yang satu lagi ditutup; Ndungga: sejenis alat musi gesek yang, berdasakan bahannya, terbagi menjadi dua jenis, yaitu ndungga roro (terbuat dari tempurung kelapa dan bulu kuda) serta ndungga koba (terbuat dari tempurung kelapa, bilah papan dan pintalan benang).

Upacara kematian dan penguburan pulau sumba Alexander umbu Goda

Home > Budaya Megalitik > Kematian dan Penguburan

UPACARA KEMATIAN DAN PENGUBURAN

ORANG Sumba percaya adanya kehidupan sesudah mati. Oleh sebab itu ritual-ritual yang berhubungan dengan kematian dan penguburan menjadi sangat penting. Ini adalah momen tatkala jiwa almarhum dilepas menuju Parai Marapu sehingga perlu dilakukan dengan tata cara yang benar. Tatkala orang Sumba meninggal dunia, jasadnya diletakkan di mbale katounga dalam posisi berbaring atau duduk, ditekukkan sedemikian rupa sehingga mirip janin dalam kandungan sebagai perlambang kelahiran kembali ke dunia arwah. Pengaturan posisi ini tidak dilakukan semaunya tapi merujuk pada kabisu asal almarhum. Jasad tersebut diselubungi degan kain tenun terbaik, yang kian lama kian bertumpuk seiring kedatangan para pelayat yang membawanya sebagai simbol duka cita.

Seperti upacara adat besar lain yang dilakukan dalam masyarakat komunal, ritu- Upacara Tarik Batu. al kematian apalagi penguburan, tak pernah menjadi urusan keluarga inti semata. Bahkan sudah kebiasaan orang Sumba membawa pulang mayat ke kampung besar untuk diurusi seluruh klan, tak perduli di manapun ia meninggal, bahkan bila itu membutuhkan biaya yang sangat mahal. Begitu pula dengan kaum kerabat, karena terikat tanggungjawab dan solidaritas, mereka selalu menyempatkan diri untuk hadir di kampung besar guna mengurusi jalannya upacara. Jadi di Sumba Barat, peristiwa kematian dan penguburan senantiasa menyebabkan arus mudik, semacam reuni besar-besaran. Kedatangan kaum kerabat ini, terutama mereka yang mempunyai pertalian khusus, tidak dilakukan secara individual tetapi selalu dalam rombongan berjumlah banyak. Mereka datang dengan pakaian adat lengkap serta membawa tanda belasungkawa berupa kain tenun terbaik serta kerbau, kuda atau babi. Siapa membawa apa diatur berdasarkan status almarhum dan ikatan kekerabatan diantara mereka.

Jarak antara kematian dan penguburan umumnya berkisar antara lima sampai tujuh hari, tapi jika urusan finansial atau batu kubur masih harus dipersiapkan, maka bisa berbulan-bulan bahkan sampai hitungan tahun. Sejumlah kerabat perempuan selalu berkerumun disekeliling mayat sambil menangis dan meratap, tapi di kalangan bangsawan para hambalah yang diserahi tugas ini. Pada malam menjelang penguburan ada yang namanya ritual Pakako Ata Mate yang intinya adalah pendarasan syair-syair ratapan tentang perjalan yang telah dan akan ditempuh almarhum menuju dunia baru. Sekarang ritual ini sudah jarang dilakukan kecuali oleh segelintir keluarga tertentu. Yang terakhir dilaksanakan di kampung Tambera sewaktu Ibunda Rato Yewa L. Kodi meninggal dunia pada tahun 2011.

Saat jenazah dikebumikan, belasan bahkan puluhan ekor kerbau, kuda serta babi disembelih sebagai persembahan kepada Marapu yang akan menyertai perjalanan almarhum menuju dunia arwah, sekaligus untuk menjamu ribuan pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Kain tenun tradisional, emas, barang pecah belah dan benda berharga lainnya ikut dikubur bersama almarhum sebagai bekal menjalani kehidupan baru. Di kalangan bangsawan Sumba Timur, ada kebiasaan memilih empat atau delapan orang hamba untuk ditugaskan sebagai Papangganggu, semacam pengiring sekaligus mediator untuk berkomunikasi dengan Almarhum. Hamba-hamba ini terlebih dahulu disucikan melalui ritual adat, lalu didandani dengan busana terbaik. mereka tidak diperkenankan menyentuh tanah jadi sewaktu menuju kubur mereka digendong atau naik kuda. Hamba kesayangan biasanya diletakkan di atas batu kubur dan bediam diri hingga upacara selesai (Sylvia Asih Anggraini: 2002).

Tarik batu kubur pulau sumba Alexander Umbu goda

Home > Budaya Megalitik > Tarik Batu Kubur

UPACARA TARIK BATU

TARIK Batu Kubur atau yang dalam bahasa Sumba disebut Tengi Watu merupakan salah satu upacara adat paling besar dalam kehidupan orang Sumba. Mengingat lempengan batu biasanya dibuat di lokasi yang agak jauh dan berbobot sekian ton, tentu diperlukan tenaga ratusan orang untuk membawanya hingga tiba ke lokasi akhir (kampung tradisional) yang umumnya berada di puncak bukit. Pengerahan tenaga kerja dalam jumlah besar jelas memerlukan biaya yang tidak sedikit, untuk makan, minum, peralatan, belum lagi ritual-ritual yang harus diselenggrakan. Dengan kata lain upacara tarik batu adalah upacara yang sangat mahal. Seperti pembangunan rumah adat, pembuatan dan penarikan batu kubur didahului tahap perundingan untuk membicarakan berbagai permasalahan termasuk masalah teknis dan finansial. Setelah kesepakatan ditetapkan maka tahap selanjutnya adalah sebagai berikut:
  1. Pencarian Bahan
    Tahap ini tidak bisa dianggap remeh karena akan mempengaruhi kelancaran tahaptahap berikutnya. Misalnya soal batu, tidak boleh asal pilih tapi harus memperhatikan jenis yang paling tepat: tidak terlalu keras agar mudah dipahat, sekaligus kuat agar tidak mudah keropos atau patah saat ditarik. Lokasi pun harus strategis agak tidak menyulitkan prosesi penarikan kelak.

  2. Pemotongan Batu
    Setelah lokasi dan bahan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah memotong bahan baku tersebut menjadi lempengan-lempengan batu kubur sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Kegiatan ini diawali dengan ritual pemujaan sederhana dengan tujuan menghalau roh-roh penunggu batu.

  3. Penarikan Batu
    Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan untuk memindahkan lempengan batu kubur dari lokasi pemotongan menuju kampung atau tempat lain yang telah ditentukan. Sebelum batu ditarik, terlebih dahulu dilakukan ritual pemujaan dengan menyembelih babi bertaring, serta mempersembahkan sesaji berupa 7 batang sirih, 7 iris pinang, 7 kerat perak, telur ayam, kelapa gading serta tempurung kelapa berisi setangkup beras (koba uratta). Semuanya dipersembahkan kepada roh penunggu batu demi menjamin kelancaran prosesi. Begitu batu ditarik dan bergeser dari tempatnya, seekor ayam jantan dilepas dan kelapa gading dipecahkan pada tempat batu tadinya berada sebagai pertanda bahwa roh penunggu telah memberi ijin.
Penarikan batu kubur jelas bukan jenis pekerjaan yang dapat dianggap enteng, apa lagi jika lokasi tujuan berada jauh di atas bukit. Agar berjalan sesuai rencana diperlukan teknik tertentu serta alat-alat penunjang, yang walau tampak sederhana, sangat menentukan kelancaran pekerjaan. Paling vital diantaranya adalah tali dan kayu. Tali, yang biasanya dipintal sendiri dari tanaman hutan, digunakan sebagai alat penarik. Besar tali seukuran lengan orang dewasa sementara panjangnya disesuaikan dengan ukuran batu. Makin besar batu, makin panjang pula tali yang diperlukan sebagai pegangan para penarik yang jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Sementara kayu digunakan untuk lokasi pemotongan batu kubur dua keperluan. Pertama: sebagai landasan lempengan batu (tiena watu) agar sewaktu ditarik tidak rusak atau pecah. Untuk keperluan ini biasanya digunakan kayu kelapa, dimana ujung salah satu kayu dibiarkan menjulur dari bawah batu lalu diukir serupa kepala kuda. Kedua: sebagai roda atau rel (kala/ mada) guna memudahkan proses penarikan. Biasanya berupa puluhan kayu bulat yang dijajarkan sepanjang rute penarikan.

Selama prosesi berlangsung, seseorang yang telah ditunjuk sebagai pemimpin, berdiri di atas batu seraya melantunkan nyanyian dan syair-syair adat berisi pemujaan terhadap marapu serta gubahan kisah kebesaran si empunya batu, juga serangkaian aba-aba untuk menyemangati para penarik. Lempengan batu biasanya dihiasi berlembarlembar kain tenun yang dibentangkan laksana layar. Batu itu sendiri dipandang sebagai kapal yang tengah berlayar menuju Parai Marapu (dunia para arwah). Setelah batu tiba di kampung dan didudukkan di tempat yang semestinya, prosesi pun ditutup melalui gelaran ritual yang dikenal dengan sebutan Basa Wai Lima. Secara harafiah Basu Wai Lima berarti cuci tangan, sementara makna yang lebih dalam adalah membasuh keringat para pekerja, dan lebih dalam lagi sebagai ungkapan syukur kepada Sang Kuasa serta terimakasih kepada seluruh kaum kerabat yang telah berpartisipasi dari awal hingga akhir. Pada kesempatan ini sejumlah kerbau serta babi disembelih (bisa belasan bahkan puluhan ekor, tergantung kemampuan si empunya acara), lalu dagingnya dibagikan kepada seluruh peserta upacara.

Jika dilihat dengan kaca mata zaman kini prosesi tarik batu tampak sederhana. Tapi coba dudukkan perkaranya seperti ini: Obyek: lempengan batu besar. Bobot: puluhan ton. Rute: panjang dan tak rata. Tujuan: puncak bukit. Lalu lihat sekali lagi dengan sudut pandang abad silam sewaktu teknologi bahkan belum termasuk daftar kata yang dikenal. Maka yang terlihat adalah seperti ini: kemampuan nenek moyang orang Sumba memikirkan teknik angkut yang tergolong canggih pada zamannya (baca: teknologi). Aspek lain yang dapat dipetik dari prosesi ini adalah kemampuan perencanaan, pengaturan kelompok, pembagian kerja serta kuatnya semangat gotong royong (baca: kearifan lokal).

Namun patut disayangkan dalam beberapa dekade terakhir tradisi budaya ini pelan-pelan mulai bergeser. Dari kuburan batu asli kini beralih ke kuburan semen. Kalaupun ada yang tetap menggunakan batu, maka prosesinya yang dipangkas, bukan lagi ditarik beramai-ramai seperti zaman dulu tapi diangkut dengan truk. Penyebabnya mudah diduga, antara lain masalah finansial, pengaruh modernisasi dan hilangnya semangat gotong royong. Material modern seperti semen, beton serta pasir lebih murah dan mudah didapat, pengerjaannya pun tak rumit jadi dianggap praktis dan ekonomis. Materialmaterial tersebut secara keliru dianggap lebih berkelas, maka begitulah, substansi pun tergantikan oleh gaya. Tetapi bukan berarti budaya ini telah punah sepenuhnya, sesekali ada juga keluarga-keluarga tertentu yang masih menjalankan upacara tarik batu dengan segenap ritual dan kemegahannya.

Batu Kubur pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Budaya Megalitik > Batu Kubur

Batu Kubur

MASIH ada julukan lain bagi Sumba, kali ini diberikan oleh para arkeolog yaitu The Living Megalithic Culture. Tidak berlebihan juga karena tradisi megalitik (batu besar) yang muncul sekitar 4500 tahun lalu masih setia dipraktekkan oleh pengikutnya di pulau ini. Di Sumba Barat bangunan megalitik dapat ditemukan hampir dimana saja, di setiap kampung tradisioanal pasti ada, di bawah kampung, di pinggir jalan, bahkan di halamam kantor polres dan rumah jabatan Bupati juga ada. Bangunan megalitik di Sumba umumnya berupa kubur batu yang dihiasi arca dan relief-relief menarik. Karena percaya dengan konsep kehidupan setelah mati, orang Sumba tak pernah bisa jauh dari kerabat yang telah meninggal dan untuk menjaga kedekatan itu mereka mendirikan batu kubur tepat di depan rumah-rumah mereka. Rumah adat dan batu kubur adalah satu paket yang tak terpisahkan, rumah sebagai tempat tinggal yang masih hidup dan batu kubur sebagai tempat tinggal yang telah almarhum. Batu kubur selalu dibuat besar dan megah, selain sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus sebagai cerminan kebesaran dan kebangsawanan pemiliknya, jadi semacam simbol status juga.
Berdasarkan bentuknya tinggalan megalitik di Sumba Barat dapat dibedakan menjadi enam jenis yaitu:
  1. Watu pawa'i: Batu kubur besar berupa meja batu (dolmen) yang ditopang oleh beberapa batu bulat yang berfungsi sebagai kaki atau penyangga. Watu pawa'i ada yang berkaki 4, bekaki 6 bahkan ada pula yang berkaki banyak. Biasanya menjadi kuburan raja-raja dan golongan bangsawan. Akan tetapi watu pawa'i ini tidak selalu menjadi kuburan, ada juga yang dibangun hanya sebagai monumen agung. Yang berfungsi sebagai kuburan biasanya dilengkapi batu kubur berukuran lebih kecil yang ditempat persis di bawah watu pawai.

  2. Watu Kuoba: Berupa batu utuh yang dipahat membentuk peti dengan lempengan batu lebar sebagai penutup. Batu jenis ini ada yang berhias ada pula yang tidak. Pola hiasnya lebih sederhana dan terletak pada bagian peti batu. Ko'ang umumnya dipakai sebagai kuburan golongan menengah dan keluarganya.

  3. Koro Watu: Batu kubur jenis ini terbentuk dari 6 lempengan batu yang disusun menjadi peti batu. 1 sebagai dasar, 1 sebagai penutup dan 4 lainnya diletakkan di masing-masing sisi. Koru Watu biasanya langsung diletakkan di atas tanah tanpa perlengkapan lainnya.
  4. Kurukata: varian lain dari Koro Watu dengan dua lempeng penutup bagian atas yang ditumpuk jadi satu.
  5. Watumanyoba: Bentuknya sederhana, hanya berupa lempengan batu tanpa kaki yang langsung diletakkan di tanah. Ada beragam model Watumanyoba: lempengan segi empat, persegi panjang, bulat telur dan lainnya. Watumanyoba umumnya digunakan sebagai kuburan para hamba, sehingga sering kali ditemukan bersisian dengan kuburan para raja.
  6. Kaduwatu: Batu tegak lurus (penji) berhiaskan beragam ukiran. Biasanya merupakan pasangan batu kubur lain, terutama dari jenis Watu Pawa'i. Berfungsi sebagai pernanda arah kepala atau kaki si mayat sekaligus sebagai simbol bangsawan.

Pola Hias

POLA hias bangunan megalitik di Sumba Barat umumnya berupa pahatan tiga dimensi berbentuk arca serta pahatan dua dimensi berbentuk relief. Pola hias ini sangat variatif, juga dipengaruhi zaman hingga menjadi kian kreatif. Ada yang berupa sulur-sulur, huruf "S", dan lingkaran memusat yang oleh para ahli dikatakan sebagai warisan zaman pra sejarah. Ada pula yang menggambarkan tokoh manusia, binatang serta pola-pola geometris dari era yang lebih muda. Perkembangan bentuk pola hias megalitik Sumba sangat dipengaruhi oleh kepercayaan religius serta status pemiliknya. Sifat kehalusan dan kebijaksanaan seorang bangsawan biasanya dipahat dengan simbol hewan atau benda alam seperti bulan dan bintang. Sementara sifat keagungan dan kebesarannya disimbolkan dengan benda-benda seperti tombak, parang, pedang serta bermacam ragam perhiasan. Hewan piaraan yang mereka miliki juga menjadi sumber inspirasi. Semakin kaya seorang raja, semakin megah pula ukiran-ukiran yang menghiasi batu kuburnya. Pengaruh lingkungan juga muncul dalam pola hias, berupa pahatan-pahatan yang berkaitan dengan kehidupan satwa seperti kakatua, kerbau, anjing, kuda, ikan, kadal dan buaya (Haris Sukendar, 2003).

Menurut Haris Sukendar, pola hias megalitik Sumba yang sangat beragam ini merupakan satu-satunya pola hias yang mewakili tradisi pra sejarah yang masih hidup (living megalithic culture). Tempat-tempat seperti Nias, Sabu, Flores dan Timor sebetulnya memiliki tradis sejenis dan sejaman tetapi tidak ada yang disertai pahatan-pahatan indah baik berupa arca maupun relief seperti yang ditemukan di pulau Sumba.

Kosepsi arsitektur pulau sumba Alexander Umbu Goda



KONSEPSI ARSITEKTUR

Penulis   : Alexander Umbu Goda
Topic       : Konsepsi Arsitektur Pulau sumba
Sumber   : Informasi Tourist departement
                    SMK NEGERI 1 WAIKABUBAK
ditulis      : juli 2012 
diperbaharui  : Rabu 03 september 2014
lokasi      : Denpasar- BALI. 
=======================================================================


         MENURUT Salaen yang dikutip A.A.Ray Geria dan I Gusti Ayu Armini (2010) dalam jurnal berjudul Arsitektur Tradisional Rumah Adat Sumba di Waikababak Kabupaten Sumba Barat, arsitektur bukan hanya sekedar wujud dan perilaku budaya masyarakat, tetapi merupakan penanda zaman yang dipengaruhi oleh tempat, iklim, bahan, ilmu pengetahuan, teknologi, pemerintahan, kepercayaan dan tradisi suatu masyarakat. Dan jika dicermati, keseluruhan rancangan rumah adat Sumba merupakan refleksi norma dan ide-ide, adat istiadat dan status sosial, pengelompokan gender, kelompok kekerabatan dan tentu saja keterkaitan dengan alam. Ide-ide tentang kelompok kekerabatan, satus sosial dan adat istiadat, sudah terangkum dari pembahasan sebelumnya, dimana bagi orang Sumba, rumah tradisional atau lebih tepat disebut rumah adat, bukan sekedar tempat tinggal semata tapi sekaligus berfungsi sebagai identitas kelompok serta pusat kehidupan sosial dan seremonial. Sementara ide tentang norma, pengelompokan gender dan keterkaitan dengan alam akan terlihat pada uraian selanjutnya Rumah adat Sumba berbentuk panggung, dilengkapi menara yang membumbung tinggi seolah hendak menggapai langit. Hal ini, sebagaimana diyakini sebagian orang, merupakan perlambang hubungan harmonis antara manusia dan Sang Pencipta. Rumah adat Sumba aslinya dibangun tanpa paku, bagian-bagiannya ditautkan satu sama lain menggunakan pasak serta tali kayu (kalere) atau rotan (uwe).


         Seluruh berat rumah sedangkan kegunaan praktisnya adalah sebagai gelang anti tikus agar hewan pengerat tersebut tidak bisa memanjat ke loteng tempat menyimpan hasil panen. Masing-masing tiang utama memiliki nama dan fungsi tersendiri. Beda kampung beda lagi namanya, tapi dari segi fungsi pada prinsipnya sama saja. Tiang yang terletak di sebelah kanan depan (parii urat) biasanya merupakan tiang yang paling diutamakan karena dipercaya sebagai tempat lalu lalang marapu pendiri rumah. Melalui tiang ini manusia dapat berhubungan dengan leluhurnya untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan. Tiang kanan belakang merupakan kediaman roh-roh leluhur yang lebih kemudian. Roh-roh ini dipercaya selalu mengawasi pintu utama, sehingga ada pula yang menyebut tiang tempat mereka berdiam sebagai tiang penjaga kabisu. Tiang Ketiga yang terletak disebelah kiri depan dan tiang ke empat di belakangnya memiliki makna yang kurang lebih sama dengan pasangan mereka di sebelah kanan, tetapi ditujukan untuk leluhur dari pihak perempuan (loka). Karena terletak di dekat area dapur, tiang keempat kerap pula dijuluki tiang penjaga api. Makna lain keempat tiang utama adalah manifestasi empat arah mata angin: utara, selatan, barat dan timur, dengan tungku api yang berada tepat di tenganhya sebagai simbol matahari. ditopang oleh empat tiang utama (parii kalada) yang terbuat dari kayukayu khusus seperti masela, kawisu, lapale atau ulu kataka, serta tiangtiang penyangga yang lebih kecil.


            Keempat tiang utama, terutama tiang pertama di dekat pintu masuk, merupakan elemen arsitektur rumah adat Sumba yang paling penting, setidaknya dari sisi religius. Masing-masing tiang dilingkari cincin besar dari kayu (labe), sehingga jika dilihat secara keseluruhan, tiang dan cincin ini agak mirip lingga dan yoni, konsepsi seksual Hindu yang melambangkan kesuburan. Dari sisi religius labe berfungsi sebagai tempat meletakkan persembahan,


           BEBERAPA nara sumber menyebut rumah adat Sumba sebagai 'rumah tiga alam' karena dari segi arsitektur dan kegunaan memang terbagi menjadi tiga bagian

yaitu:Toko Uma, Bei Uma, dan Kali Kabunga.

1. Toko Uma

         Secara harafiah Toko Uma berarti tongkat rumah, dan dalam konteks ini berwujud menara tinggi dengan atap alang-alang. Jauh di puncak menara, tepatnya di pojok kiri dan kanannya, tersemat duatonggak kayu berukiran manusia yang disebut dengan istilah kadu uma (tanduk rumah). Kadu Uma adalah simbol Ina-Ama (Ibu-Bapak), yaitu pasangan leluhur pendiri rumah yang hidup berdampingan dan mengawasi segalanya. Toko Uma menjalankan fungsi praktis dan religiusnya sendiri yaitu sebagai tempat persemayaman marapu dan sebagai tempat menyimpan hasil panen, harta pusaka dan benda berharga lainnya.










2. Bei Uma
            Bei Uma merupakan bagian rumah tempat hunian.Dinding dan lantainya terbuat dari bambu (walau kini banyak juga dinding rumah yang menggunakan bilah papan). Bei Uma terbagi menjadi area luar berupa beranda luas yang cenderung berfungsi sebagai area publik, dan area dalam tempat berlangsungnya aktivitas domestik. Area dalam sedikit lebih tinggi dari beranda, dan untuk mencapainya tersedia anak tangga dari tanduk kerbau yang langsung terhubung ke pintu masuk. Ada dua pintu masuk, satu untuk laki-laki dan satunya lagi untuk perempuan. Tanduk kerbau juga kerap digunakan sebagai hiasan dinding beranda. Hiasan lainnya berupa rahang babi yang digantung berjajar di sepanjang tepi atap. Hiasan-hiasan ini adalah peninggalan hewan korban yang disembelih saat berlangsung pesta adat. Makin banyak hiasannya berarti telah banyak pesta yang digelar si empunya rumah, dengan demikian menjadi lambang prestise juga. Bagian dalam rumah, baik secara simbolis maupun fungsional, terbagi menjadi dua bagian: bagian untuk laki-laki yang lebih formal dan religius (mbale katounga) serta bagian untuk wanita yang lebih ke urusan rumah tangga (kere pandalu). Mbale katounga berwujud bale-bale panjang yang terentang mulai pintu masuk laki-laki hingga ke ujung uma (menara/loteng). Ruang di antara ke dua pintu masuk digunakan sebagai gudang (hadoka) atau sebagai kamar terpisah bagi anak yang telah menikah. Sementara ruang
di antara koro ndouka dan ujung belakang mbale katounga adalah ruang tambahan yang memiki sejumlah fungsi. Anggota keluarga yang sakit biasanya beristirahat di ruang ini, pengantin wanita didandani di sini, dan para ibu melahirkan bayi mereka juga di ruangan yang disebut halibar ini. Ruang-ruang tersebut di atas jarang memiliki partisi permanen, satu sama lain hanya dipisahkan oleh bale-bale pendek sehingga jika tampak sekilas, interior rumah Sumba bagaikan sebuah ruang terbuka lebar.

3. Kali Kabunga

          Merupakan kolong rumah yang sekelilingnya diberi pagar, berfungsi sebagai kandang ternak dan tempat menyimpan kayu bakar. SIMBOLISASI RUMAH ADAT BANYAK orang Sumba memandang rumah adat mereka sebagai simbolisasi tubuh manusia yang terdiri dari kepala, badan dan anggota tubuh, serta terbagi menjadi laki-laki dan perempuan. Bagian kepala dilambangkan dengan atap atau menara (toko uma). Dan sebagaimana kepala yang merupakan tempat beradanya otak (pusat kehidupan atau jiwa manusia) menara rumah orang Sumba juga dianggap sebagai tempat beradanya jiwa keluarga. Disinilah hasil ladang sebagai sumber kelangsungan hidup badaniah disimpan, juga harta benda pusaka yang merupakan sumber kehidupan ruhaniah (spiritual). Bagian badan dilambangkan dengan bagian rumah tempat hunian (bei uma). Badan manusia memiliki organ-organ penting seperti hati serta jantung, begitu juga bei uma. Hati diidentikkan dengan leki atau para-para yang terletak menggantung di antara belakang rumah. fungsinya beragam, sebagai tempat pertemuan formal, tempat pemujaan serta area tidur. Sementara kere pandalu, yang berfungsi sebagai tempat menyiapkan makanan dan tempat menyimpan berbagai alat rumah tangga, terentang mulai pintu masuk perempuan hingga sepertiga panjang rumah, seperempat sisanya merupakan ruang tidur pemilik rumah (koro ndouka). Mbale katounga dan kere pandulu dipisahkan oleh area dapur (robukadana) yang terletak persis ditengah ruangan, diapit oleh ke empat tiang utama. Di tengahnya ada tungku api, dan diatas tungku api tergantung leki atau para-para. Leki terbagi dua: leki kii (para-para kecil) tempat menyimpan makanan matang, dan leki kalada (para-para besar) tempat menyimpan peralatan dapur. Leki merupakan batas tertinggi bei uma, lebih ke atas lagi ada uma dana yaitu pelataran tempat menyimpan hasil panen dan harta pusaka keluarga yang merupakan bagian toko empat tiang utama. 

            Karena berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan masak dan makanan matang, leki dianggapap sebagai penunjang kelangsungan hidup yang penting. Sementara jantung identik dengan robukadana yaitu tungku api serta dapur yang terletak tepat di tengah-tengah rumah, dan dianggap sebagai pusat penggerak kehidupan. Bagian kaki dilambangkan dengan tiang-tiang penopang, terutama 4 tiang utama dan 16 tiang penyangga, serta tiang-tiang penunjang lainnya. Sementara konsep gender tampak pada pembagian ruang-ruang. Ada Bale katounga (ruang untuk laki-laki) dan ada Kere pandalu (ruang untuk perempuan). Konsep gender juga terlihat jelas pada kadu uma (tanduk rumah), simbol suami dan istri yang berada di puncak menara rumah. Menurut A.A. Rai Geria danI Gusti Ayu Armini (2010) konsep gender dalam rumah adat Sumba bisa dilihat sebagai simbol hubungan spiritual dua kutub berlawanan yang bersifat oposisi biner. Misalnya langit dan bumi atau lelaki dan perempuan. Masing-masing terpisah dalam status dan peran namun bekerja saling melengkapi sehingga pada gilirannya mampu menghasilkan kesuburan, kelangsungan hidup dan kekayaan.




PEMBANGUNAN RUMAH ADAT

              PEMBANGUNAN rumah adat Sumba merupakan salah satu kegiatan adat besar yang membutuhkan sejumlah besar dana, juga keterlibatan banyak pihak sehingga perlu dipersiapkan dengan matang. Tahap-tahap persiapan dan pembangunan mungkin agak berbeda antara satu wilayah etnis dan wilayah etnis lainnya, tapi perbedaan tersebut tidak terlalu mencolok dan lebih disebabkan karena lokasi pengambilan bahan yang berbedabeda. Misalnya ada yang bisa memperoleh bahan di lokasi dekat kampung, tapi ada juga yang harus menyebrangi laut, sehingga akhirnya ikut mempengaruhi variasi ritual. Pada dasarnya pembangunan rumah adat bisa dibagi menjadi tiga tahapan besar yaitu persiapan atau perundingan, pencarian bahan dan pembangunan.


1. Perundingan

         Tahap perundingan yang dalam bahasa Wanokaka disebut pakehang atau pakasana dalam bahasa Loli, merupakan tahapan penting dimana seluruh kabisu terkait, baik yang bermukim di dalam maupun di luar kampung, berkumpul bersama untuk membicarakan persiapan-persiapan yang perlu dilakukan, baik menyangkut bahan, tenaga kerja, ritual adat, pendanaan dan waktu pelaksanaan


2. Pencarian bahan

        Pada tahap ini bahan bangunan mulai dikumpulkan. Bahan-bahan ini berasal dari alam sekitar, seperti kayu untuk tiang, alang-alang untuk atap, bambu untuk dinding dan lantai, tali-temali untuk pengait, juga pandan yang kemudian dianyam menjadi tikar untuk alas duduk maupun tidur. Yang terpenting dari semuanya adalah pencarian kayu untuk tiang utama. Proses pencarian, yang kadang bisa berlangsung selama berhari-hari, umumnya dilakukan di hutan-hutan tertentu melalui kegiatan adat khusus yang di sebut Laungu Ai (Wanokaka) atau Burru Kandawu (Loli). Sebelum berangkat, rombongan yang dipimpim oleh beberapa orang rato terlebih dahulu melakukan pemujaan kecil dengan menyembelih ayam guna mengetahui peruntungan dan lokasi yang tepat. Pemujaan kembali dilakukan setelah kayu ditemukan, kali ini dengan pelantunan syair-syair adat serta persembahan sirih dan pinang sebagai simbol permohonan ijin kepada roh penunggu pohon. Lalu sang rato melemparkan tombaknya ke pohon terpilih dan dengan itu proses penebangan pun dimulai. Setelah ditebang, kayu diikat dengan tali khusus, dihiasi lado (semacam hiasan kepala yang biasa dipakai para rato) lalu ditarik beramai-ramai menuju kampung dengan terlebih dahulu melakukan pemujaan sebagai tanda penghormatan kepada roh penunggu pohon. Di pintu masuk kampung kembali dilakukan prosesi adat dalam bentuk kajalla (sejenis pantun adat yang substansinya semacam pertanggung jawaban atau pernyataan maksud). Baru setelah itu rombongan diijinkan masuk kampung untuk memulai proses selanjutnya.


          Di Wanokaka, di mana lokasi pengambilan kayu berada di hutan Konda Maloba yang harus ditempuh melalui jalur laut, kegiatan Laungu Ai dibarengi ritual yang sedikit berbeda. Rombongan harus berkemah di tepi hutan selama hari-hari, sehingga sewaktu kayu akhirnya berhasil ditemukan dan ditebang, mereka melakukan pemujaan (mayatung) dengan menyembelih ayam serta babi sebagai ucapan syukur, lalu dibagikan kepada seluruh rombongan sebagai simbol melepas kepenatan setelah lama menetap dihutan. Sewaktu hendak berlayar kembali ke Wanokaka mereka juga melakukan ritual yang disebut Maratang Tana, dengan melepas seekor anak ayam yang kaki kanannya diikat tali merah. Lalu ada lagi Hari Papa, upacara meriah yang digelar selama 3 hari di pesisir pantai Wanokaka. Upacara ini merupakan ungkapan syukur dan luapan suka cita karena rombongan telah kembali dan berhasil! Upacara dimeriahkan dengan tarian, nyanyian dan pemotongan hewan untuk dibagikan kepada seluruh rombongan. Pembagian daging dilakukan dengan cara yang sedikit unik, disesuaikan dengan posisi mereka saat berlayar, misalnya kepala untuk juru mudi dan seterusnya. Selepas perayaan Hari Papa kayu datarik menuju kampung. Prosesi penarikan dipimpin para rato dan dua pasang laki-laki dan perempuan yang bertugas sebagai pemberi semangat, pemimpin lagu dan tari-tarian.



3. Pembangunan

         Setelah semua bahan terkumpul pembangunan pun siap dimulai. Tentu saja didahului upacara pemujaan untuk memanggil kula ina-kula ama (roh pasangan pendiri rumah) agar turut serta dalam proses pembangunan kembali rumah tersebut sehingga semuanya dapat berjalan dengan lancar. Ritual ini dilakukan dengan menyembelih babi sebagai persembahan. Bagian rumah yang paling pertama dibangun adalah keempat tiang utama. Tiang-tiang ini dipancang dengan pangkal tertancap di tanah dan ujung menghadap ke atas seperti posisi alami kayu sebelum ditebang, tidak boleh sebaliknya. ujung tali-temali yang mengikat tiang pun harus mengarah ke kanan, tidak boleh ke kiri. Pelanggaran terhadap hal-hal semacam ini dipercaya bakal membawa penyakit bagi penghuni rumah. Setelah tiang utama tertancap kuat, giliran tiang-tiang pendukung (pari’i ripi) yang dibangun, lalu landasan rumah (uma dana) dan terakhir kerangka menara. Proses selanjutnya adalah pemasangan alang-alang (pangaingo) yang juga dianggap penting dan biasanya melibatkan partisipasi seluruh kampung. Pemasangan alang-alang harus dilakukan serapat mungkin agar tidak bocor ketika hujan. Berikutnya adalah pemasangan dinding, lalu lantai, diakhiri dengan pengerjaan bagian dalam rumah. Selama pembangunan berlangsung, setangkup sirih pinang selalu diletakkan di dekat Parii urat (tiang utama pertama) sebagai persembahan kepada marapu.

========================================================================
Sekian dan terimah kasih atas kebersamaan anda dalam melihat dan membaca isi dan bloger Alexander Umbu goda. tiada lain dan tiada bukan harapan saya tetap sama semoga berguna dan bermanfaat bagi saudara saudara sekalian yang membutukan informasi mengeni sumba. .

Kampung adat Pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Tradisional > Rumah Adat
RUMAH ADAT
Seperti kampung mereka, rumah orang Sumba terbagi dalam pengertian rumah besar (uma kalada) dan selainnya. Dan seperti wanno kalada, uma kalada juga merupakan rumah yang dibangun oleh nenek moyang pertama dan dihuni turun temurun oleh generasi selanjutnya. Di rumah adat ini berdiam arwah leluhur yang telah menjadi serupa dewa (marapu), dan dirumah ini pula tersimpan harta benda pusaka milik keluarga bersangkutan. Semua turunan pendiri rumah, baik yang masih berdiam di situ maupun yang telah membangun hunian baru, terikat dalam suatu hubungan kekerabatan yang disebut kabisu. Dalam satu kampung umumnya terdapat lebih dari satu kabisu, masing-masing memiliki uma kalada tersendiri yang berfungsi sebagai pusat kehidupan sosio-religius kelompok kabisu bersangkutan. Rumah-rumah tradisional yang tidak termasuk kategori rumah adat disebut ana uma (jika dibangun di kampung yang sama) atau uma ouma (jika dibangun diluar kampung adat).

Ana uma artinya anak rumah, yaitu cabang sebuah rumah adat yang ddirikan oleh nenek moyang yang lebih muda. Sedangkan uma ouma berarti rumah kebun, karena awalnya memang dibangun disekitar sawah dan ladang untuk keperluan pengawasan. Rumah-rumah semacam ini tidak dianggap sebagai kediaman leluhur sehingga tidak dijadikan pusat seremonial. Seremoni-seremoni penting dalam siklus hidup penghuninya seperti perkawinan dan penguburan tetap dilaksanan di rumah adat utama, demikian pula dengan pemujaan-pemujaan tertentu. Seperti disinggung sebelumnya, sebuah rumah adat utama selalu menjadi milik sebuah kabisu. Dan dalam sebuah kampung yang homogen (dihuni lebih dari satu kabisu), rumah adat kabisu yang satu dibedakan dengan rumah adat kabisu yang lain berdasarkan nama yang disandangnya. Nama sebuah rumah adat bisa berdasarkan nama pendirinya, tapi lebih sering berdasarkan peran ritual yang dijalankannya. Nama dan fungsi rumah antara kampung yang satu dengan yang lainnya juga berbeda-beda, tergantung upacara yang biasa digelar di kampung tersebut. Sebagai contoh, di kampung Tambera (Kecamatan Loli) ada rumah bernama Uma Kalada Wogo milik klan Wee Lowo yang bertugas sebagai penjaga mata air suci dan pemanggil hujan. sementara di kampung  Dikita (Kecamatan Tana Righu) ada Umma Pulluna yang berperan menyampaikan pesan-pesan diantara para rato (jubir).

Kampung adat pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Tradisional > Kampung Adat
KAMPUNG ADAT
ADA sebuah julukan yang rasanya pantas diberikan kepada Kabupaten Sumba Barat yaitu The land of A Thousand Villages atau tanah seribu kampung. Kabupaten ini memang penuh dengan kampung-kampung tradisional yang tersebar mulai dari pelosok terpencil hingga ke pusat kota. Mungkin Anda tak percaya di pusat kota ada kampung tradisionalnya, tapi begitulah keunikan Sumba Barat, yang modern dan tradisional bercampur jadi satu. Penduduk Sumba Barat umumnya membangun perkampungan mereka di puncak- puncak bukit. Kecenderungan ini setidaknya didasarkan atas dua alasan utama yaitu alasan praktis dan religius. Di masa lalu sering terjadi perang antar suku untuk memperebutkan daerah kekuasaan sehingga tempat yang tinggi dianggap lebih praktis untuk dijadikan benteng pertahanan. Sedangkan dari sisi religius mengacu pada konsepsi pra sejarah yang mengangap semakin tinggi tempat tinggal, semakin dekat pula penghuninya dengan arwah leluhur dan dewa-dewa. Apa pun alasannya, posisi kampung yang berada di puncak bukit mendatangkan keuntungan estitika berupa pemandangan yang sangat
indah.

Seperti telah di bahas pada bab sebelumnya ada dua jenis kampung tradisional yang dikenal penduduk asli Sumba, yaitu kampung besar (wanno kalada) dan cabang dari kampung besar tersebut (wanno gollu). Kampung besar adalah kampung yang dibangun oleh nenek moyang pertama dan merupakan pusat penyelenggaraan berbagai ritual adat penting. Karena peran ritual yang disandangnya wanno kalada sering pula dirujuk dengan istilah kampung adat. Sementara kampung cabang adalah kampung-kampung yang dibangun oleh generasi yang lebih muda. Kampung semacam ini bukan tempat kediaman marapu sehingga tidak memiliki peran ritual. Warganya selalu harus kembali ke kampung besar sewaktu hendak menggelar upacara-upacara penting, termasuk perkawinan dan penguburan. Dengan demikian kampung adat atau wanno kalada bisa pula dilihat sebagai sebuah identitas kelompok. Orang-orangnya, baik yang masih tinggal di sana ataupun yang tersebar diberbagai tempat lain, terikat satu sama lain oleh hak dan kewajiban yang sama atas kampung mereka dan berbagai kegiatan sosio-religius.Kampung adat Sumba dikelilingi pagar batu yang tertata rapi serta dilengkapi dua gerbang utama, gerbang masuk yang disebut bina tama dan gerbang keluar yang disebut bina louso.

Sebongkah batu atau simbol-simbol lain yang telah diperciki darah hewan pesembahan diletakkan di masing-masing gerbang sebagai perlambang roh penjaga pintu (marapu bina). Sebuah wanno kalada umumnya dihuni oleh lebih dari satu klan, masing-masing memiliki satu rumah adat utama. Rumah-rumah ini dibangun berjajar mengelilingi sebuah pelataran suci (natara) yang pada waktu-waktu tertentu digunakan sebagai tempat menggelar berbagai ritual penting. Di sekitar natara dan rumah adat, tersebar makam megalitik. Orang Sumba selalu mendirikan kuburan di depan rumah mereka agar senantiasa dekat dengan kerabat yang telah meninggal. Posisi mayat pun selalu menghadap ke arah rumah agar dapat mengawasi aktifitas mereka yang masih hidup. Selain fungsi pokoknya sebagai tempat mengubur mayat, makam-makam ini sering juga digunakan untuk kegiatan lain yang bersifat profan, misalnya menjemur padi atau menjadi semacam balkon untuk menonton upacara adat yang digelar di natara. Selain batu kubur, terdapat beberapa objek pemujaan yang tersebar di tengah kampung adat. Yang paling umum adalah katoda, berupa tonggak kayu kecil dengan batu pipih di bawahnya sebagai tempat meletakkan persembahan bagi marapu. Di beberapa kampung tertentu ada watu kaballa atau batu kilat yang dipercaya berasal dari langit dan konon bisa mendatangkan sambaran petir terhadap orangorang yang berniat buruk. Lainnya berupa pokok kayu mati yang disebut adung. Pada zaman dahulu adung digunakan untuk menggantung kepala musuh. Di depan adung pula digelar upacara-upacara persiapan perang dan sesudahnya. Sekarang ini yang digelar disitu adalah ritual persiapan berburu babi hutan yang diselenggarakan pada saat bulan suci (wulla poddu)
 sekitar Oktober – November setiap tahun.

Ajarabn ajaran Marapu pulau sumba Alexander Umbu Goda

Home > Merapu > Ajaran-Ajaran Merapu
AJARAN-AJARAN MARAPU

KARENA tidak mengenal tulisan maka sudah jelas tak ada ajaran Marapu yang tercatat, apalagi terangkum dalam sebuah kitab suci. Tapi tidak adanya tulisan telah mendorong munculnya keahlian lain, selama berabad-abad nenek moyang suku Sumba telah mengembangkan suatu tradisi oral yang mengagumkan.

Ajaran-ajaran mereka tersimpan dalam syair-syair suci marapu yang disebut